Penulis :Prof AzZumardi Azra
Pencarian rohani adalah perennial quest --percarian umat manusia yang tidak pernah berakhir. Umumnya orang meningkatkan kehidupan spiritualnya melalui agama, khususnya lewat aspek "batin", bagian terdalam dari agama, yang dalam Islam disebut sebagai tasawuf (sufisme).
Tapi juga ada orang-orang yang karena berbagai alasan tidak puas dengan agama mapan (established religion). Pemahaman dan pengamalan agama yang terlalu literal atau kepemimpinan agama yang tidak memperlihatkan empati, misalnya, merupakan sebagian alasan pokok sementara orang menjauh dari agama mapan; dan sebaliknya masuk ke dalam pangkuan aliran spiritual.
Selain alasan ketidakpuasan internal keagamaan, disorientasi dalam kehidupan pribadi, keluarga, lingkungan, dan masyarakat lebih luas juga dapat mendorong orang mencari kenyamanan rohani "alternatif". Dalam situasi ini, orang cenderung mengambil cara-cara tidak konvensional dan tidak ortodoks. Persisnya, menceburkan diri ke dalam aliran spiritualisme tertentu yang mereka anggap lebih "menjanjikan".
Aliran-aliran spiritual di luar agama mapan biasa juga dikenal sebagai New Age --spiritualisme zaman baru yang banyak mewabah di Amerika Serikat, terutama pada 1960-1970-an. Sebagian muncul sebagai reaksi terhadap Perang Vietnam dan juga terhadap materialisme dan hedonisme Amerika.
Lazimnya, New Age menggabungkan berbagai tradisi spiritualisme, mulai monatisisme Kristen, mistisisme yoga Hindu dan Buddha, sampai pseudo-sufisme. Ada pretensi monisme spiritual di sini, yang tentu saja sangat sinkretik.
New Age umumnya berpusat pada figur tunggal yang dipercayai para pengikutnya memiliki kekuatan spiritual tertentu, yang bisa mendatangkan kemajuan atau bahkan kesempurnaan rohaniah. Karena otoritas spiritual berpusat pada seorang figur tunggal, maka aliran spiritual segera berkembang menjadi cult --kultus (individu).
Dengan semua karakter seperti itu, cult menjadi sangat tergantung "sang guru". Kalau dia permisif dalam soal seks, maka cult-nya bisa berupa pengayaan rohani melalui seks (sex as a ritual). Kalau sang guru percaya pada "kiamat yang segera datang", sangat boleh jadi dia memerintahkan para pengikutnya menebus dosa dengan cara bunuh diri.
Masyarakat Indonesia jelas tidak imun dari semua gejala di atas. Apalagi di zaman globalisasi yang bagi sebagian orang adalah masa meningkatnya disorientasi dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk agama. Maka, kian banyak muncul aliran yang menyempal dari agama mapan. New Age dan berbagai aliran spiritual pun menjamur. Kehebohan di sekitar Anand Krishna dengan sejumlah muridnya di Anand Ashram agaknya hanyalah puncak dari gunung es yang tersembunyi dari permukaan.
Akhirnya, pencarian spiritual tetap saja memerlukan akal sehat, jika tidak ingin terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak diinginkan.
Azyumardi Azra
Guru besar sejarah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
[Perspektif, Gatra Nomor 16 Beredar Kamis, 25 Februari 2010
Jumat, 05 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar