Penulis PRof Nasarudin Umar
• Orang yang serba berkecukupan seringkali sulit beribadah secara khusyuk dan merasa tidak akrab dengan Tuhannya, meskipun melakukan berbagai ketaatan dan ibadah, kenapa?
• Bagaimana dan apa kiatnya untuk memperoleh kedekatan diri dengan Tuhan dalam keadaan seperti ini?
Kondisi batin yang paling perlu diwaspadai ialah ketika kita sedang dalam keadaan normal. Ketika semua kebutuhan tercukupi apalagi berlebihan.
Musibah, hajat, dosa besar, dan berbagai kesulitan dan kekecewaan hidup lainnya lebih sering mendorong seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT ketimbang kondisi batin yang sedang berkecukupan, baik dari segi kuantitatif maupun segi kualitatif.
Tingkat kebutuhan hidup setiap orang berbeda-beda satau sama lain. Namun wacana di dalam Islam dibedakan atas beberapa tingkatan kebutuhan, yaitu:
1) Kebutuhan dharury, yakni kebutuhan pokok atau basic needs seperti kebutuhan akan makan, minum, dan berhubungan suami-isteri.
2) Kebutuhan hajjiyat, yakni kebutuhan yang penting tetapi belum menjadi kebutuhan pokok, seperti kebutuhan akan sebuah tempat tinggal, kedaraan, dan alat komunikasi.
3) Kebutuhan tahsiniyyat, yakni kebutuhan yang bersifat pelengkap (luxury), seperti perabotan yang bermerek, aksessoris kendaraan, dan handphone yang lebih canggih.
Seseorang yang berada dalam tingkat kedua dan ketiga perlu berhati-hati karena perjalanan spiritual dalam kondisi seperti ini seringkali jalan di tempat. Bahkan berpeluang untuk diajak turun oleh berbagai daya tarik dan godaan dunia.
Berbeda jika seseorang sedang dirundung duka, sedang diuji dengan kebutuhan mendesak, atau sedang dilanda penyesalan dosa yang mungkin agak resisten terhadap godaan-godaan yang bersifat materi.
Kesenangan hidup, apalagi kalau sampai berlebihan, bawaannya sulit mendaki (taraqqi) ke langit. Sebagai contoh, orang yang berkecukupan sulit sekali berlama-lama khusyuk dalam shalatnya, bukan hanya karena banyaknya godaan dunia yang ada dalam pikirannya, tetapi juga tidak punya tekanan batin atau trigger, semacam roket pendorong yang akan mengangkatnya ke langit.
Trigger itu biasanya suasana batin yang betul-betul merasa sangat butuh pertolongan Tuhan. Seperti orang yang merasakan kesulitan yang sesegera mungkin harus mengeluarkan diri dari kesulitan itu.
Itulah sebabnya Rasulullah pernah mengingatkan untuk waspada terhadap doa orang yang teraniaya (madhlum) karena doanya lebih cepat sampai kepada Tuhan. Memang dalam Islam dikenal ada dua sayap efektif yang bisa menerbangkan seseorang menuju Tuhan, yaitu sayap sabar dan sayap syukur.
Sayap sabar terbentuk dari ketabahan seseorang menerima cobaan berat dari Tuhan seperti musibah, penyakit kronis, penderitaan panjang, dan kekecewaan hidup. Jika sabar menjalani cobaan itu, maka dengan sendirinya terbentuk sayap-sayap yang akan mengangkat martabat dirinya di mata Tuhan.
Sayap kedua ialah syukur. Sayap syukur terbentuk dari kemampuan seseorang untuk secara telaten mensyukuri berbagai karunia dan nikmat Tuhan, seperti seseorang mendapatkan rezki melimpah, jabatan penting, dan kesehatan prima.
Sayap sabar dan sayap syukur sama-sama bisa mengorbitkan seseorang mendekati Tuhan tetapi pada umumnya hentakan sayap sabar lebih kencang ketimbang sayap syukur. Sayap sabar seolah-olah memiliki energi ekstra yang bisa melejitkan seseorang. Energi ekstra itu tidak lain adalah rasa butuh yang amat sangat terhadap Tuhan (raja’), penyerahan diri secara total kepada Tuhan (tawakkal), dan olah batin yang amat dalam (mujahadah).
Ketiga energi ekstra ini biasanya sulit terwujud di dalam diri orang yang berkecukupan. Bagaimana mungkin seseorang merasa butuh terhadap Tuhan sementara semua kebutuhan hidup serba berkecukupan.
Bagaimana mungkin seseorang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan sementara ia terperangkap di dalam dunia popularitas. Bagaimana mungkin melakukan olah batin sementara nuraninya diselimuti kilauan dunia. Bagaimana mungkin khusyuk beribadah sementara perutnya kekenyangan.
Orang yang hidupnya selalu berkecukupan dan enjoy dengan kehidupan seperti itu adalah sah-sah saja. Akan tetapi jika ia lupa bahwa kehidupan ini adalah sementara lantas lalai mempersiapkan bekal kehidupan akhirat maka pertanda hidup itu tidak berkah baginya. Mungkin saja orang itu sesungguhnya hidup di dalam kebahagiaan semu, selalu dibayangi oleh suasana batin yang hambar, kering, dan membosankan.
Di dalam Islam, kekayaan dan kebahagiaan yang hakiki ialah kekayaan dan kebahagiaan jiwa (al-gina ginan nafs). Tanpa kekayaan dan kebahagiaan jiwa maka sesungguhnya tidak ada kekayaan dan kebahagiaan sejati.
Islam tidak melarang orang untuk mengumpulkan kekayaan materi, bahkan Islam mengharuskan orang untuk bekerja produktif tetapi tetap efisien dan efektif.
"Dunia adalah cermin akhirat", demikian kata Hadis. Sulit membayangkan akhirat yang baik tanpa dunia yang sukses. Ibadah mahdlah seperti shalat, zakat, haji, bahkan puasa, pun membutuhkan cost. Semuanya perlu biaya dan biaya itu urusan dunia.
Kiat mengatasi suasana batin yang berada dalam kondisi normal ialah memperkuat semangat raja’ dan mujahadah di dalam diri. Seseorang perlu sesekali mengecoh kehidupan dunianya dengan melakukan halwat atau takhannus seperti yang pernah dilakukan Rasulullah di Goa Hira, ketika ia sedang hidup berkecukupan di samping isterinya Khadijah yang kaya, bangsawan dan serba berkecukupan.
Untuk kehidupan kita sekarang ini, mungkin tidak perlu mencari goa yang terpencil atau jauh-jauh meninggalkan kediaman dan keluarga. Yang paling penting ada suasana ’uzlah (pemisahan diri) sementara dari suasana hiruk pikuknya pikiran ke sebuah tempat yang sejuk dan nyaman. Bisa saja dengan melakukan i’tikaf di salah satu masjid, apalagi di dalam bulan suci Ramadlan.
Di dalam masjid kita berniat untuk beri’tikaf karena Allah. Di sanalah kita mengecoh pikiran dan tradisi keseharian kita dengan membaca Al-Qur’an lebih banyak, shalat, tafakkur dan berzikir. Niatkan bahwa masjid ini adalah goa Hira atau goa Kahfi, yang pernah mengorbitkan kekasih-kekasih Tuhan, Nabi Muhammad dan Nabi Khidhir, melejit ke atas dan mendapatkan pencerahan.
Jika suasana batin dibiarkan berlalu menghabisi dan menyita sepanjang hidup kita, tanpa pernah diselingi dengan rasa faqir (miskin di mata Tuhan), apa lagi karena deposito dan kekayaan yang begitu melimpah sampai bisa diwarisi tujuh generasi, dikhawatirkan yang bersangkutan akan melahirkan generasi lemah (dha’f) di mata Allah. Bahkan tidak mustahil akan membebani kita di akhirat kelak.
Milik kita di akhirat hanya yang pernah dibelanjakan di jalan Allah. Selebihnya berpotensi menyusahkan kehidupan jangka panjang kita di alam barzah dan di alam baqa di akhirat.
Bersihkanlah harta kita dengan zakat dan shadaqah, luruskanlah pikiran kita dengan zikrullah, dan lembutkanlah jiwa kita tafakkur dan tadzakkur, tangguhkanlah pendirian kita di atas rel shirathal mustaqim. Dengan demikian, semoga kita mendapatkan seruan Ilahi: La tahzan innallaha ma’ana (Jangan khawatir, Allah bersama kita),Amin./taq
Sumber Republika OnLine dg judul Mencermati Kondisi Batin: Ketika Kita Sedang dalam Kondisi Normal Kamis, 02 April 2009, 13:11 WIB
Sabtu, 24 April 2010
Minggu, 07 Maret 2010
Prof Komarddin Hidayat : Agama Punya Seribu Nyawa
Pertengahan Juni lalu saya berkesempatan jalan-jalan ke Moskow, menghadiri undangan simposium internasional bertema “Religion and Peace, From Terrorism to Global Ethics.” Bagi saya, tema ini terasa klise dan repetitive. Tetapi karena diadakan di Moskow, hati saya tertarik untuk datang. Hitung-hitung napak tilas kunjungan saya yang pertama tahun 1981 saat Uni Soviet masih tegak berdiri dan disegani Blok Barat. Dunia berputar. Tak sampai seratus tahun pemerintahan Moskow sangat anti agama, kini berusaha bersikap ramah pada ’kekuatan agama’. Uni Soviet bubar, pewaris utamanya adalah Negara Federasi Rusia.
Baik Uni Soviet, RRC maupun Korea Utara ketiganya pernah dikenal sebagai rejim yang memusuhi agama. Ironisnya, mereka menyatakan anti Tuhan, tetapi rakyat dipaksa menyembah para pemimpinnya. Mereka tidak percaya pada malaikat, tetapi intel-intelnya bekerja bagaikan malaikat yang selalu memata-matai setiap warganya. Pemerintah melarang agama, tetapi peraturan dan doktrin partai komunis tak ubahnya syariah agama.
Demikianlah, berbagai ideologi komunis dan sekularisme telah berusaha membangun doktrin dan filsafat untuk membasmi dan mengubur agama, namun kenyataannya amunisi mereka semakin menipis sementara agama tetap hidup di muka bumi. Ketika disebut agama, persoalan dan perdebatan tentu segera muncul. Agama apa yang dimaksudkan di sini? Bukankah kata agama selalu mengasumsikan makna plural, yaitu agama-agama (religions)? Dari sekian banyak agama, mana yang paling benar?
Saya tidak akan memasuki perdebatan yang tak kunjung berakhir mengenai apakah hakikat agama, definisi agama dan asal-usul agama menurut sarjana-sarjana ilmu sosial karena masing-masing memiliki argumentasi dan keyakinan yang tidak selalu sama. Yang ingin saya sampaikan hanyalah sekadar pandangan bahwa manusia dan masyarakat selalu mendambakan dan mencari Tuhan, Dia Yang Maha Absolut, terlepas apakah mereka berhasil atau tidak dalam pencariannya. Oleh karena itu dari sudut pandang ini di Indonesia sesungguhnya terdapat puluhan kepercayaan (keagamaan) namun secara politis-administratif yang diakui pemerintah hanya lima. Adakah pencarian dan keyakinan mereka diterima Tuhan atau tidak, itu masuk wilayah akidah dan keyakinan, bukan lagi wilayah ilmiah.
Jika kita hitung, pemikir dan pemimpin dunia yang mengingkari Tuhan dan anti agama sesungguhnya jumlahnya tergolong minoritas. Namun, di antara mereka ada yang memiliki pengikut besar. Bisa jadi karena kekuatan gagasannya yang tersebar melalui buku-buku, atau karena kekuasaan politik yang dimiliki. Sebut saja di antara mereka adalah Karl Marx, Engels, Lenin, Nietzche, Sartre, Sigmund Freud, Michael Baqunin, August Comte, Charles Darwin, Bertrand Russel dan beberapa nama lain yang pemikirannya berseliweran masuk ruang kuliah di kampus.
Semakin terbukanya jalur, sarana dan forum komunikasi lintas agama, budaya dan bangsa, dunia terasa semakin hiruk-pikuk, termasuk wacana keagamaan. Jutaan buku dan artikel pernah terbit, yang isinya ada yang bernafsu sekali ingin meyakinkan pembacanya bahwa agama tak lagi diperlukan oleh masyarakat modern. Agama tak lebih dari sebuah khayalan orang-orang frustasi dan kalah bersaing dalam perjuangan politik dan ekonomi. Menurut mereka, agama adalah jalan pelarian dari kekalahan. Agama menawarkan hiburan berupa proyeksi dan harapan palsu tentang surga di masa depan agar hidup tetap survive dan beban hidup menjadi ringan. Lebih jauh lagi dikatakan, agama akhirnya jadi sumber masalah sosial, bukannya bagian dari solusi sosial.
Demikianlah, beragam teori dan jutaan lembar buku telah beredar dengan maksud untuk membunuh pemikiran dan gerakan keagamaan. Namun ternyata keyakinan mereka meleset. Agama tidak pernah mati. Kehidupan justru menjadi semakin bermakna ketika agama difahami dan diamalkan dengan benar. Sampai-sampai muncul istilah, agama memiliki seribu nyawa. Dibunuh satu, masih hidup 999. Dari sudut pandang psikologi-tasawuf, dorongan seseorang untuk beragama tidak mungkin mati karena setiap manusia menerima ruh ilahi yang senantiasa merindukan Tuhannya, sedangkan ruh tidak mengenal kehancuran dan kematian karena ruh bersifat immateri dan abadi. Begitu banyak tanda-tanda keberadaan dan keagungan Tuhan. Begitu banyak problem, misteri, dan keindahan hidup yang mendorong manusia berpikir, siapa pencipta semua ini kalau bukan Tuhan. Seorang seniman yang hatinya telah tercerahkan sambil memandang sekuntum mawar berkata: "God never puts His name on the rose, because no one else makes the rose." Ungkapan senada bisa diperpanjang, misalnya: "God never puts His name on the sky, because no one else has ability to make it."
Sebagai seorang muslim mesti yakin bahwa Islam adalah ajaran paling benar di mata Allah. Namun secara sosiologis kita tidak bisa mengingkari kenyataan bahwa bumi dihuni oleh manusia dengan ragam agama. Berkaitan dengan pluralitas agama, Al-Qur’an secara eksplisit berulangkali mengungkapkan bahwa keanekaragaman flora, fauna dan bangsa, bahasa serta agama semua itu merupakan tanda-tanda kebesaranNya. Ditegaskan dalam Al-Qur’an, tak ada paksaan dalam beragama, karena sesungguhnya antara yang benar dan yang salah sudah begitu nyata, bagi mereka yang hati dan pikirannya terbuka. Bahkan terhadap orang-orang kafir yang membangkang, Allah mengajarkan kepada Rasulullah: bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Namun begitu ingatlah bahwa apapun pilihan iman dan amal seseorang, nantinya Aku (Allah) akan membuat perhitungan dan pengadilan.
Dahulu ketika jumlah penduduk bumi masih sedikit, hidupnya pun saling berjauhan dan alat telekomunikasi belum maju. Penduduk sebuah desa mungkin hidup tenang dengan tradisi yang ada, tak ada pertengkaran soal perbedaan agama. Tetapi bagi generasi anak-anak kita sekarang, realitas dan wajah kehidupan akan terasa semakin warna-warni, yang ada kalanya tampak indah dan ada kalanya membingungkan. Oleh karena itu diperlukan pemahaman agama yang benar serta keteladanan dari orang dalam mengamalkannya. Beragama tidak cukup hanya mengandalkan simbol-simbol lahiriah serta ritus jasmaniah. Hakikat tauhid dan keshalehan harus dimulai dan berakar kuat di dalam hati dan penalaran sehat, lalu diikuti dengan pengamalan yang tulus dan benar.
Di masa Rasulullah dan sahabat, banyak orang kafir tertarik pada Islam karena akhlak mulia yang ditunjukkan oleh tokoh-tokohnya, baru kemudian mereka mendalami dan meyakini kemuliaan dan kebenaran agamanya. Kita berharap training ESQ dan kajian-kajian lanjutan yang tengah dipersiapkan akan bisa menambah bobot keimanan dan pengetahuan yang benar tentang Islam secara lebih substansial, bukan sekadar formal dan seremonial. Terdapat isyarat kuat bahwa agama semakin bangkit dan menguat dalam panggung dunia. Tetapi, paham dan perilaku keberagamaan yang bagaimanakah yang paling mendekati kehendak Allah dan fitrah manusia, itulah yang harus selalu dikaji dalam komunitas ESQ.
(Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Nebula (ESQ Magazine) Edisi 09/Tahun I/2005)
Baik Uni Soviet, RRC maupun Korea Utara ketiganya pernah dikenal sebagai rejim yang memusuhi agama. Ironisnya, mereka menyatakan anti Tuhan, tetapi rakyat dipaksa menyembah para pemimpinnya. Mereka tidak percaya pada malaikat, tetapi intel-intelnya bekerja bagaikan malaikat yang selalu memata-matai setiap warganya. Pemerintah melarang agama, tetapi peraturan dan doktrin partai komunis tak ubahnya syariah agama.
Demikianlah, berbagai ideologi komunis dan sekularisme telah berusaha membangun doktrin dan filsafat untuk membasmi dan mengubur agama, namun kenyataannya amunisi mereka semakin menipis sementara agama tetap hidup di muka bumi. Ketika disebut agama, persoalan dan perdebatan tentu segera muncul. Agama apa yang dimaksudkan di sini? Bukankah kata agama selalu mengasumsikan makna plural, yaitu agama-agama (religions)? Dari sekian banyak agama, mana yang paling benar?
Saya tidak akan memasuki perdebatan yang tak kunjung berakhir mengenai apakah hakikat agama, definisi agama dan asal-usul agama menurut sarjana-sarjana ilmu sosial karena masing-masing memiliki argumentasi dan keyakinan yang tidak selalu sama. Yang ingin saya sampaikan hanyalah sekadar pandangan bahwa manusia dan masyarakat selalu mendambakan dan mencari Tuhan, Dia Yang Maha Absolut, terlepas apakah mereka berhasil atau tidak dalam pencariannya. Oleh karena itu dari sudut pandang ini di Indonesia sesungguhnya terdapat puluhan kepercayaan (keagamaan) namun secara politis-administratif yang diakui pemerintah hanya lima. Adakah pencarian dan keyakinan mereka diterima Tuhan atau tidak, itu masuk wilayah akidah dan keyakinan, bukan lagi wilayah ilmiah.
Jika kita hitung, pemikir dan pemimpin dunia yang mengingkari Tuhan dan anti agama sesungguhnya jumlahnya tergolong minoritas. Namun, di antara mereka ada yang memiliki pengikut besar. Bisa jadi karena kekuatan gagasannya yang tersebar melalui buku-buku, atau karena kekuasaan politik yang dimiliki. Sebut saja di antara mereka adalah Karl Marx, Engels, Lenin, Nietzche, Sartre, Sigmund Freud, Michael Baqunin, August Comte, Charles Darwin, Bertrand Russel dan beberapa nama lain yang pemikirannya berseliweran masuk ruang kuliah di kampus.
Semakin terbukanya jalur, sarana dan forum komunikasi lintas agama, budaya dan bangsa, dunia terasa semakin hiruk-pikuk, termasuk wacana keagamaan. Jutaan buku dan artikel pernah terbit, yang isinya ada yang bernafsu sekali ingin meyakinkan pembacanya bahwa agama tak lagi diperlukan oleh masyarakat modern. Agama tak lebih dari sebuah khayalan orang-orang frustasi dan kalah bersaing dalam perjuangan politik dan ekonomi. Menurut mereka, agama adalah jalan pelarian dari kekalahan. Agama menawarkan hiburan berupa proyeksi dan harapan palsu tentang surga di masa depan agar hidup tetap survive dan beban hidup menjadi ringan. Lebih jauh lagi dikatakan, agama akhirnya jadi sumber masalah sosial, bukannya bagian dari solusi sosial.
Demikianlah, beragam teori dan jutaan lembar buku telah beredar dengan maksud untuk membunuh pemikiran dan gerakan keagamaan. Namun ternyata keyakinan mereka meleset. Agama tidak pernah mati. Kehidupan justru menjadi semakin bermakna ketika agama difahami dan diamalkan dengan benar. Sampai-sampai muncul istilah, agama memiliki seribu nyawa. Dibunuh satu, masih hidup 999. Dari sudut pandang psikologi-tasawuf, dorongan seseorang untuk beragama tidak mungkin mati karena setiap manusia menerima ruh ilahi yang senantiasa merindukan Tuhannya, sedangkan ruh tidak mengenal kehancuran dan kematian karena ruh bersifat immateri dan abadi. Begitu banyak tanda-tanda keberadaan dan keagungan Tuhan. Begitu banyak problem, misteri, dan keindahan hidup yang mendorong manusia berpikir, siapa pencipta semua ini kalau bukan Tuhan. Seorang seniman yang hatinya telah tercerahkan sambil memandang sekuntum mawar berkata: "God never puts His name on the rose, because no one else makes the rose." Ungkapan senada bisa diperpanjang, misalnya: "God never puts His name on the sky, because no one else has ability to make it."
Sebagai seorang muslim mesti yakin bahwa Islam adalah ajaran paling benar di mata Allah. Namun secara sosiologis kita tidak bisa mengingkari kenyataan bahwa bumi dihuni oleh manusia dengan ragam agama. Berkaitan dengan pluralitas agama, Al-Qur’an secara eksplisit berulangkali mengungkapkan bahwa keanekaragaman flora, fauna dan bangsa, bahasa serta agama semua itu merupakan tanda-tanda kebesaranNya. Ditegaskan dalam Al-Qur’an, tak ada paksaan dalam beragama, karena sesungguhnya antara yang benar dan yang salah sudah begitu nyata, bagi mereka yang hati dan pikirannya terbuka. Bahkan terhadap orang-orang kafir yang membangkang, Allah mengajarkan kepada Rasulullah: bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Namun begitu ingatlah bahwa apapun pilihan iman dan amal seseorang, nantinya Aku (Allah) akan membuat perhitungan dan pengadilan.
Dahulu ketika jumlah penduduk bumi masih sedikit, hidupnya pun saling berjauhan dan alat telekomunikasi belum maju. Penduduk sebuah desa mungkin hidup tenang dengan tradisi yang ada, tak ada pertengkaran soal perbedaan agama. Tetapi bagi generasi anak-anak kita sekarang, realitas dan wajah kehidupan akan terasa semakin warna-warni, yang ada kalanya tampak indah dan ada kalanya membingungkan. Oleh karena itu diperlukan pemahaman agama yang benar serta keteladanan dari orang dalam mengamalkannya. Beragama tidak cukup hanya mengandalkan simbol-simbol lahiriah serta ritus jasmaniah. Hakikat tauhid dan keshalehan harus dimulai dan berakar kuat di dalam hati dan penalaran sehat, lalu diikuti dengan pengamalan yang tulus dan benar.
Di masa Rasulullah dan sahabat, banyak orang kafir tertarik pada Islam karena akhlak mulia yang ditunjukkan oleh tokoh-tokohnya, baru kemudian mereka mendalami dan meyakini kemuliaan dan kebenaran agamanya. Kita berharap training ESQ dan kajian-kajian lanjutan yang tengah dipersiapkan akan bisa menambah bobot keimanan dan pengetahuan yang benar tentang Islam secara lebih substansial, bukan sekadar formal dan seremonial. Terdapat isyarat kuat bahwa agama semakin bangkit dan menguat dalam panggung dunia. Tetapi, paham dan perilaku keberagamaan yang bagaimanakah yang paling mendekati kehendak Allah dan fitrah manusia, itulah yang harus selalu dikaji dalam komunitas ESQ.
(Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Nebula (ESQ Magazine) Edisi 09/Tahun I/2005)
Jumat, 05 Maret 2010
Spiritualitas, New Age, dan Kultus
Penulis :Prof AzZumardi Azra
Pencarian rohani adalah perennial quest --percarian umat manusia yang tidak pernah berakhir. Umumnya orang meningkatkan kehidupan spiritualnya melalui agama, khususnya lewat aspek "batin", bagian terdalam dari agama, yang dalam Islam disebut sebagai tasawuf (sufisme).
Tapi juga ada orang-orang yang karena berbagai alasan tidak puas dengan agama mapan (established religion). Pemahaman dan pengamalan agama yang terlalu literal atau kepemimpinan agama yang tidak memperlihatkan empati, misalnya, merupakan sebagian alasan pokok sementara orang menjauh dari agama mapan; dan sebaliknya masuk ke dalam pangkuan aliran spiritual.
Selain alasan ketidakpuasan internal keagamaan, disorientasi dalam kehidupan pribadi, keluarga, lingkungan, dan masyarakat lebih luas juga dapat mendorong orang mencari kenyamanan rohani "alternatif". Dalam situasi ini, orang cenderung mengambil cara-cara tidak konvensional dan tidak ortodoks. Persisnya, menceburkan diri ke dalam aliran spiritualisme tertentu yang mereka anggap lebih "menjanjikan".
Aliran-aliran spiritual di luar agama mapan biasa juga dikenal sebagai New Age --spiritualisme zaman baru yang banyak mewabah di Amerika Serikat, terutama pada 1960-1970-an. Sebagian muncul sebagai reaksi terhadap Perang Vietnam dan juga terhadap materialisme dan hedonisme Amerika.
Lazimnya, New Age menggabungkan berbagai tradisi spiritualisme, mulai monatisisme Kristen, mistisisme yoga Hindu dan Buddha, sampai pseudo-sufisme. Ada pretensi monisme spiritual di sini, yang tentu saja sangat sinkretik.
New Age umumnya berpusat pada figur tunggal yang dipercayai para pengikutnya memiliki kekuatan spiritual tertentu, yang bisa mendatangkan kemajuan atau bahkan kesempurnaan rohaniah. Karena otoritas spiritual berpusat pada seorang figur tunggal, maka aliran spiritual segera berkembang menjadi cult --kultus (individu).
Dengan semua karakter seperti itu, cult menjadi sangat tergantung "sang guru". Kalau dia permisif dalam soal seks, maka cult-nya bisa berupa pengayaan rohani melalui seks (sex as a ritual). Kalau sang guru percaya pada "kiamat yang segera datang", sangat boleh jadi dia memerintahkan para pengikutnya menebus dosa dengan cara bunuh diri.
Masyarakat Indonesia jelas tidak imun dari semua gejala di atas. Apalagi di zaman globalisasi yang bagi sebagian orang adalah masa meningkatnya disorientasi dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk agama. Maka, kian banyak muncul aliran yang menyempal dari agama mapan. New Age dan berbagai aliran spiritual pun menjamur. Kehebohan di sekitar Anand Krishna dengan sejumlah muridnya di Anand Ashram agaknya hanyalah puncak dari gunung es yang tersembunyi dari permukaan.
Akhirnya, pencarian spiritual tetap saja memerlukan akal sehat, jika tidak ingin terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak diinginkan.
Azyumardi Azra
Guru besar sejarah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
[Perspektif, Gatra Nomor 16 Beredar Kamis, 25 Februari 2010
Pencarian rohani adalah perennial quest --percarian umat manusia yang tidak pernah berakhir. Umumnya orang meningkatkan kehidupan spiritualnya melalui agama, khususnya lewat aspek "batin", bagian terdalam dari agama, yang dalam Islam disebut sebagai tasawuf (sufisme).
Tapi juga ada orang-orang yang karena berbagai alasan tidak puas dengan agama mapan (established religion). Pemahaman dan pengamalan agama yang terlalu literal atau kepemimpinan agama yang tidak memperlihatkan empati, misalnya, merupakan sebagian alasan pokok sementara orang menjauh dari agama mapan; dan sebaliknya masuk ke dalam pangkuan aliran spiritual.
Selain alasan ketidakpuasan internal keagamaan, disorientasi dalam kehidupan pribadi, keluarga, lingkungan, dan masyarakat lebih luas juga dapat mendorong orang mencari kenyamanan rohani "alternatif". Dalam situasi ini, orang cenderung mengambil cara-cara tidak konvensional dan tidak ortodoks. Persisnya, menceburkan diri ke dalam aliran spiritualisme tertentu yang mereka anggap lebih "menjanjikan".
Aliran-aliran spiritual di luar agama mapan biasa juga dikenal sebagai New Age --spiritualisme zaman baru yang banyak mewabah di Amerika Serikat, terutama pada 1960-1970-an. Sebagian muncul sebagai reaksi terhadap Perang Vietnam dan juga terhadap materialisme dan hedonisme Amerika.
Lazimnya, New Age menggabungkan berbagai tradisi spiritualisme, mulai monatisisme Kristen, mistisisme yoga Hindu dan Buddha, sampai pseudo-sufisme. Ada pretensi monisme spiritual di sini, yang tentu saja sangat sinkretik.
New Age umumnya berpusat pada figur tunggal yang dipercayai para pengikutnya memiliki kekuatan spiritual tertentu, yang bisa mendatangkan kemajuan atau bahkan kesempurnaan rohaniah. Karena otoritas spiritual berpusat pada seorang figur tunggal, maka aliran spiritual segera berkembang menjadi cult --kultus (individu).
Dengan semua karakter seperti itu, cult menjadi sangat tergantung "sang guru". Kalau dia permisif dalam soal seks, maka cult-nya bisa berupa pengayaan rohani melalui seks (sex as a ritual). Kalau sang guru percaya pada "kiamat yang segera datang", sangat boleh jadi dia memerintahkan para pengikutnya menebus dosa dengan cara bunuh diri.
Masyarakat Indonesia jelas tidak imun dari semua gejala di atas. Apalagi di zaman globalisasi yang bagi sebagian orang adalah masa meningkatnya disorientasi dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk agama. Maka, kian banyak muncul aliran yang menyempal dari agama mapan. New Age dan berbagai aliran spiritual pun menjamur. Kehebohan di sekitar Anand Krishna dengan sejumlah muridnya di Anand Ashram agaknya hanyalah puncak dari gunung es yang tersembunyi dari permukaan.
Akhirnya, pencarian spiritual tetap saja memerlukan akal sehat, jika tidak ingin terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak diinginkan.
Azyumardi Azra
Guru besar sejarah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
[Perspektif, Gatra Nomor 16 Beredar Kamis, 25 Februari 2010
INDAHNYA RAHMAN DAN RAHIM
Penulis : Hamim Thohari
Untuk kesekian kalinya, Putri mendekat dan memandangi lekat ikan-ikan yang sedang berenang dalam akuarium. Keningnya nampak berkerut dan wajahnya memancar kedukaan. Tak lama kemudian bahkan nampak sebulir air bening mulai menggayut di sudut matanya.
Sepagi itu, sudah empat kali Putri melakukan hal serupa. Matanya menatap sedih ke arah salah seekor ikan yang sedang berenang dengan posisi terbalik! Pagi itu Putri begitu tersentak ketika dibangunkan bunda dan ditegur tentang kelalaiannya. Ya, ia lupa belum memberi makan ikan-ikan di akuarium itu sejak kemarin siang!
Akibatnya, kesepuluh ikan penghuni akuarium tersebut kelaparan, lantas menyerang dan memangsa ikan terlemah, dan ikan mas koki warna oranye yang menjadi korbannya. Pagi itu, keadaannya menjadi sangat menyedihkan karena telah kehilangan ekornya. Sangat menyedihkan dalam benak Putri, ketika ia harus membayangkan betapa semalaman si ikan lemah itu lelah berenang kesana kemari dikejar-kejar ikan lain, diserang dan digigit-gigit ekor besarnya yang semula mengembang indah, hingga hanya menyisakan beberapa milimeter saja.
Karena kehilangan ekor yang semula berfungsi sebagai pengatur keseimbangan tubuhnya, si ikan tak mampu mengendalikan tubuhnya sendiri, sehingga ia hanya bisa mengambang tanpa daya dalam posisi bagian atas berada di bawah! Kondisi inilah yang membuat Putri kecil menjadi benar-benar tak tega melihatnya. Tentu dia sangat pusing dengan kepala terbalik seperti itu, batin pikiran mungilnya. Apalagi ketika ibu menjelaskan bahwa tak mungkin dalam keadaan seperti itu ia bertahan hidup lama. Berarti, akhir hidupnya tinggal menunggu waktu.
Putri merasa semakin bersalah manakala memikirkan kenyataan ini. Apa yang harus ia lakukan untuk sedikit meringankan beratnya derita yang dihadapi si ikan? Apakah dengan mempercepat membunuhnya agar ia tak tersiksa terlalu lama?
Putri kecil sedang resah. Rasa kasih sayang yang tumbuh dari dalam lubuk hatinya membuat air matanya terus menitik. Gadis berusia tujuh tahun itu tak tega membayangkan beratnya derita si ikan dalam menunggu saat kematiannya. Maka ketika dua jam berikutnya si ikan benar-benar telah mati, selain merasa sedih, ia pun bisa bersyukur karenanya.
Subhanallah, dalam diri si Putri mungil telah nampak pancaran kasih sayang. Itulah manifestasi dari rahman dan rahim yang diturunkan Allah pada manusia. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw. menyatakan, bahwa Allah SWT memiliki 100 bagian kasih sayang dan Dia baru menurunkan satu untuk dibagikan kepada seluruh alam semesta di dunia.
Dari satu bagian tersebut, Putri telah menampakkan barangkali cuma sepersepuluh milyar bagiannya. Namun sudah bisa dirasakan, betapa indah rasa kasih sayang yang terpancar dari kepolosan gadis mungil ini. Manusia tak akan mampu membayangkan, lantas seperti apa bentuk kasih sayang Allah yang masih disimpan-Nya sebanyak 99 bagian lagi? Subhanallah, itulah keberuntungan bagi mereka yang mampu mencapai surga, karena di sanalah seluruh Rahman dan Rahim-Nya yang sebenarnya bisa dirasakan.(Disarikan dari Sumber http://esqmagazine.com oleh Moh As Syakir Hasbullah)
Untuk kesekian kalinya, Putri mendekat dan memandangi lekat ikan-ikan yang sedang berenang dalam akuarium. Keningnya nampak berkerut dan wajahnya memancar kedukaan. Tak lama kemudian bahkan nampak sebulir air bening mulai menggayut di sudut matanya.
Sepagi itu, sudah empat kali Putri melakukan hal serupa. Matanya menatap sedih ke arah salah seekor ikan yang sedang berenang dengan posisi terbalik! Pagi itu Putri begitu tersentak ketika dibangunkan bunda dan ditegur tentang kelalaiannya. Ya, ia lupa belum memberi makan ikan-ikan di akuarium itu sejak kemarin siang!
Akibatnya, kesepuluh ikan penghuni akuarium tersebut kelaparan, lantas menyerang dan memangsa ikan terlemah, dan ikan mas koki warna oranye yang menjadi korbannya. Pagi itu, keadaannya menjadi sangat menyedihkan karena telah kehilangan ekornya. Sangat menyedihkan dalam benak Putri, ketika ia harus membayangkan betapa semalaman si ikan lemah itu lelah berenang kesana kemari dikejar-kejar ikan lain, diserang dan digigit-gigit ekor besarnya yang semula mengembang indah, hingga hanya menyisakan beberapa milimeter saja.
Karena kehilangan ekor yang semula berfungsi sebagai pengatur keseimbangan tubuhnya, si ikan tak mampu mengendalikan tubuhnya sendiri, sehingga ia hanya bisa mengambang tanpa daya dalam posisi bagian atas berada di bawah! Kondisi inilah yang membuat Putri kecil menjadi benar-benar tak tega melihatnya. Tentu dia sangat pusing dengan kepala terbalik seperti itu, batin pikiran mungilnya. Apalagi ketika ibu menjelaskan bahwa tak mungkin dalam keadaan seperti itu ia bertahan hidup lama. Berarti, akhir hidupnya tinggal menunggu waktu.
Putri merasa semakin bersalah manakala memikirkan kenyataan ini. Apa yang harus ia lakukan untuk sedikit meringankan beratnya derita yang dihadapi si ikan? Apakah dengan mempercepat membunuhnya agar ia tak tersiksa terlalu lama?
Putri kecil sedang resah. Rasa kasih sayang yang tumbuh dari dalam lubuk hatinya membuat air matanya terus menitik. Gadis berusia tujuh tahun itu tak tega membayangkan beratnya derita si ikan dalam menunggu saat kematiannya. Maka ketika dua jam berikutnya si ikan benar-benar telah mati, selain merasa sedih, ia pun bisa bersyukur karenanya.
Subhanallah, dalam diri si Putri mungil telah nampak pancaran kasih sayang. Itulah manifestasi dari rahman dan rahim yang diturunkan Allah pada manusia. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw. menyatakan, bahwa Allah SWT memiliki 100 bagian kasih sayang dan Dia baru menurunkan satu untuk dibagikan kepada seluruh alam semesta di dunia.
Dari satu bagian tersebut, Putri telah menampakkan barangkali cuma sepersepuluh milyar bagiannya. Namun sudah bisa dirasakan, betapa indah rasa kasih sayang yang terpancar dari kepolosan gadis mungil ini. Manusia tak akan mampu membayangkan, lantas seperti apa bentuk kasih sayang Allah yang masih disimpan-Nya sebanyak 99 bagian lagi? Subhanallah, itulah keberuntungan bagi mereka yang mampu mencapai surga, karena di sanalah seluruh Rahman dan Rahim-Nya yang sebenarnya bisa dirasakan.(Disarikan dari Sumber http://esqmagazine.com oleh Moh As Syakir Hasbullah)
Selasa, 02 Maret 2010
Lagu Cinta by Muhammad Harry Naldi
Muhamad Harry Naldi
Cinta adalah sesuatu yang indah, membuat yang merasakannya begitu senang dan bahagia. Rasa cinta terhadap seseorang menjadikannya begitu ekspresif dan kreatif sehingga banyak kisah yang dituangkan dalam bentuk film, drama, dan pertunjukan lainnya. Kisah roman percintaan dalam novel atau cerita pendek digambarkan demikian indah, membuat kita terbuai, larut dalam ceritanya.. Begitu pula dengan untaian puisi, syair, dan lagu. Tak terhitung banyaknya lagu tentang cinta, dari yang gembira ketika jatuh cinta hingga yang sedih mendayu-dayu ketika ditinggal kekasih.
“Jatuh cinta berjuta rasanya... dia datang dan pergi terbayang wajahnya...
Jatuh cinta berjuta indahnya, tertawa menangisnya karena jatuh cinta oh asyiknya...“
“Cintaku, gelora asmara seindah lembayung senja, tiada ada yang kuasa melebihi indahnya nikmatnya cinta.”
‘Aku cinta padamu, sungguh...aku cinta padamu kasih..”
“Begetar hatiku, saat ku jatuh cinta padamu, di dalam hati kutuliskan nama dirimu..”
Banyaknya syair dan lagu yang diilhami oleh cinta karena manusia merasakan betapa indahnya cinta itu. Cinta diwujudkan dalam ungkapan rasa kasih dan sayang. Betapa beruntungnya kita memiliki Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ia telah menetapkan atas diriNya untuk menebarkan kasih sayang (Qs 6:12). Kasih sayang merupakan sifat dari namaNya yang indah ArRahman ArRahim, yang mengutus Rasulullah SAW untuk menebarkan kasih sayang ke seluruh penjuru alam semesta (Qs 21:107). Dengan sifatNya itu, Allah mengampuni semua dosa-doa, ketika kita memohon ampun, meki begitu banyak dan besarnya dosa kita. Karena kasih sayang Allah, lebih besar dari amarahNya (Hadits, Bukhari-Muslim).
Namun pernahkah kita mengungkapkan rasa cinta kepada Sang Pemilik Rasa Kasih Sayang itu? Apakah kita sudah membalas cintanya Allah SWT? Jangan-jangan kita “lupa’ mencintainya. Karena seringkali tanpa disadari kita lebih memikirkan orang lain dari pada memikirkan Allah dan penciptaan alam semesta. Seringkali kita mendendangkan lagu tapi isi syairnya terkesan bahwa bukan Allah SWT semata yang kita cintai. Simaklah syair lagu berikut ini:
“Aku mau hidup denganmu, aku mau matipun karenamu, aku mau sisa waktuku bersamamu...kaulah hidup dan matiku...”
“Kau tercipta hanya untukku, aku lahir hanya untukmu.. janganlah bimbang janganlah ragu…hatiku hanyalah milikmu seorang...”
“Akulah penjagamu, akulah pelindungmu, akulah pendampingmu di setiap langkah-langkahmu...“
“Aku mau makan ingat kamu, aku mau tidur ingat kamu...”
“Kau adalah darahku, kau adalah jantungku, kau adalah hidupku, lengkapi diriku, oh sayangku kau begitu... sempurna”
Itulah sebagian syair lagu yang senantiasa disukai dan kerap dinyanyikan. Melodinya begitu indah, sampai tak terasa kita hanyut didalamnya. Sering diputar di radio, dan televisi. Membuat kita dengan sendirinya hafal, lalu tanpa sadar turut mendendangkannya...
Begitu besar cinta seseorang terhadap orang lain. Tanpa menyadari bahwa ada yang harus dicintai melebihi segalanya, yakni rasa cinta kepada Sang Pencipta. Dari lagu “Kaulah hidup dan matiku”, bukankah dalam sholat kita senantiasa membaca doa Iftitah (pembuka), “Sesungguhnya, sholatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata hanya untuk Allah Rabbal Alamiin”?
“Kau tercipta hanya untuku?” bukankah kita diciptakan untuk beribadah kepadanya? Tidak kuciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku (Ad Dzariyat: 56).
“Kau begitu sempurna.” Bukankah tidak ada manusia yang sempurna? Setiap manusia memiliki kekurangan. Yang Maha Sempurna hanya Allah SWT.
“Akulah pelindungmu, akulah penjagamu di setiap langkah-langkahmu...”
Siapakah penjaga dan pelindung kita sesungguhnya? Bukankah Allah SWT satu-satunya tempat kita memohon dan berlindung? “Allah sebaik-baiknya penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang (Qs. Yusuf : 64)
“Kemana-mana ingat dirimu?” Bukankah hakekat dzikir adalah mengingat Allah, baik dikala berdiri, duduk maupun dalam keadaan berbaring..? (Qs Ali Imran: 191)
Lebay alias berlebih-lebihan dalam mencintai sesama makhluk ciptaan Allah tak ubahnya seperti kita “menyembah” sesuatu selain Allah. Bila hati berdebar dan gemetar ketika teringat kekasih lalu bagaimana hati kita bila mengingat Allah? Oleh karena itu cobalah dirasakan, apakah hati gemetar ketika ada yang menyebut nama Allah dan membaca ayat-ayat Al Quran? “Sesungguhnya orang yang beriman itu, adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya, bertambahlah keimanannya..” (Qs Al Anfaal :2)
Boleh saja mencintai lawan jenis, suami/isteri atau anak bahkan harta benda, tapi hendaklah jangan melebihi kecintaan kita terhadap Allah SWT. Karena sesungguhnya Allah SWT begitu mencintai kita dan meghendaki agar kita kembali ke tempat yang terbaik. “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan disi Allah tempat kembali yang baik (surga). (Qs Ali Imraan: 14).
Semoga Allah SWT mengampuni semua dosa, kekeliruan dan kesalahan kita. Jadi, mari nyanyikan lagu (cinta yang lebay) dengan menggantikan maknanya dihati agar ditujukan semata-mata hanya untuk Allah SWT: “...Terima kasih CINTA untuk segalanya KAU berikan lagi kesempatan itu, tak akan terulang lagi semmuuuaaa... kesalahanku... yang pernah ‘menyakiti’MU...” dst.
Tulisan ini diunduh dari Email yang dikrimkan kepada syakir_has@yahoo.co.id.
Cinta adalah sesuatu yang indah, membuat yang merasakannya begitu senang dan bahagia. Rasa cinta terhadap seseorang menjadikannya begitu ekspresif dan kreatif sehingga banyak kisah yang dituangkan dalam bentuk film, drama, dan pertunjukan lainnya. Kisah roman percintaan dalam novel atau cerita pendek digambarkan demikian indah, membuat kita terbuai, larut dalam ceritanya.. Begitu pula dengan untaian puisi, syair, dan lagu. Tak terhitung banyaknya lagu tentang cinta, dari yang gembira ketika jatuh cinta hingga yang sedih mendayu-dayu ketika ditinggal kekasih.
“Jatuh cinta berjuta rasanya... dia datang dan pergi terbayang wajahnya...
Jatuh cinta berjuta indahnya, tertawa menangisnya karena jatuh cinta oh asyiknya...“
“Cintaku, gelora asmara seindah lembayung senja, tiada ada yang kuasa melebihi indahnya nikmatnya cinta.”
‘Aku cinta padamu, sungguh...aku cinta padamu kasih..”
“Begetar hatiku, saat ku jatuh cinta padamu, di dalam hati kutuliskan nama dirimu..”
Banyaknya syair dan lagu yang diilhami oleh cinta karena manusia merasakan betapa indahnya cinta itu. Cinta diwujudkan dalam ungkapan rasa kasih dan sayang. Betapa beruntungnya kita memiliki Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ia telah menetapkan atas diriNya untuk menebarkan kasih sayang (Qs 6:12). Kasih sayang merupakan sifat dari namaNya yang indah ArRahman ArRahim, yang mengutus Rasulullah SAW untuk menebarkan kasih sayang ke seluruh penjuru alam semesta (Qs 21:107). Dengan sifatNya itu, Allah mengampuni semua dosa-doa, ketika kita memohon ampun, meki begitu banyak dan besarnya dosa kita. Karena kasih sayang Allah, lebih besar dari amarahNya (Hadits, Bukhari-Muslim).
Namun pernahkah kita mengungkapkan rasa cinta kepada Sang Pemilik Rasa Kasih Sayang itu? Apakah kita sudah membalas cintanya Allah SWT? Jangan-jangan kita “lupa’ mencintainya. Karena seringkali tanpa disadari kita lebih memikirkan orang lain dari pada memikirkan Allah dan penciptaan alam semesta. Seringkali kita mendendangkan lagu tapi isi syairnya terkesan bahwa bukan Allah SWT semata yang kita cintai. Simaklah syair lagu berikut ini:
“Aku mau hidup denganmu, aku mau matipun karenamu, aku mau sisa waktuku bersamamu...kaulah hidup dan matiku...”
“Kau tercipta hanya untukku, aku lahir hanya untukmu.. janganlah bimbang janganlah ragu…hatiku hanyalah milikmu seorang...”
“Akulah penjagamu, akulah pelindungmu, akulah pendampingmu di setiap langkah-langkahmu...“
“Aku mau makan ingat kamu, aku mau tidur ingat kamu...”
“Kau adalah darahku, kau adalah jantungku, kau adalah hidupku, lengkapi diriku, oh sayangku kau begitu... sempurna”
Itulah sebagian syair lagu yang senantiasa disukai dan kerap dinyanyikan. Melodinya begitu indah, sampai tak terasa kita hanyut didalamnya. Sering diputar di radio, dan televisi. Membuat kita dengan sendirinya hafal, lalu tanpa sadar turut mendendangkannya...
Begitu besar cinta seseorang terhadap orang lain. Tanpa menyadari bahwa ada yang harus dicintai melebihi segalanya, yakni rasa cinta kepada Sang Pencipta. Dari lagu “Kaulah hidup dan matiku”, bukankah dalam sholat kita senantiasa membaca doa Iftitah (pembuka), “Sesungguhnya, sholatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata hanya untuk Allah Rabbal Alamiin”?
“Kau tercipta hanya untuku?” bukankah kita diciptakan untuk beribadah kepadanya? Tidak kuciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku (Ad Dzariyat: 56).
“Kau begitu sempurna.” Bukankah tidak ada manusia yang sempurna? Setiap manusia memiliki kekurangan. Yang Maha Sempurna hanya Allah SWT.
“Akulah pelindungmu, akulah penjagamu di setiap langkah-langkahmu...”
Siapakah penjaga dan pelindung kita sesungguhnya? Bukankah Allah SWT satu-satunya tempat kita memohon dan berlindung? “Allah sebaik-baiknya penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang (Qs. Yusuf : 64)
“Kemana-mana ingat dirimu?” Bukankah hakekat dzikir adalah mengingat Allah, baik dikala berdiri, duduk maupun dalam keadaan berbaring..? (Qs Ali Imran: 191)
Lebay alias berlebih-lebihan dalam mencintai sesama makhluk ciptaan Allah tak ubahnya seperti kita “menyembah” sesuatu selain Allah. Bila hati berdebar dan gemetar ketika teringat kekasih lalu bagaimana hati kita bila mengingat Allah? Oleh karena itu cobalah dirasakan, apakah hati gemetar ketika ada yang menyebut nama Allah dan membaca ayat-ayat Al Quran? “Sesungguhnya orang yang beriman itu, adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya, bertambahlah keimanannya..” (Qs Al Anfaal :2)
Boleh saja mencintai lawan jenis, suami/isteri atau anak bahkan harta benda, tapi hendaklah jangan melebihi kecintaan kita terhadap Allah SWT. Karena sesungguhnya Allah SWT begitu mencintai kita dan meghendaki agar kita kembali ke tempat yang terbaik. “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan disi Allah tempat kembali yang baik (surga). (Qs Ali Imraan: 14).
Semoga Allah SWT mengampuni semua dosa, kekeliruan dan kesalahan kita. Jadi, mari nyanyikan lagu (cinta yang lebay) dengan menggantikan maknanya dihati agar ditujukan semata-mata hanya untuk Allah SWT: “...Terima kasih CINTA untuk segalanya KAU berikan lagi kesempatan itu, tak akan terulang lagi semmuuuaaa... kesalahanku... yang pernah ‘menyakiti’MU...” dst.
Tulisan ini diunduh dari Email yang dikrimkan kepada syakir_has@yahoo.co.id.
Senin, 01 Maret 2010
WAJAH FIR'AUN
INGIN tahu bagaimana wajah nenek moyang Fir’aun? Datang saja ke Mesir karena baru-baru ini tim arkeolog berhasil menemukan sebuah patung besar yang mengabadikan kepala salah satu raja (Firaun) Mesir Kuno yang paling terkemuka, Amenhotep III. Raja itu memerintah Mesir 3.400 tahun lampau.
Menurut Dewan Benda-benda Purbakala Mesir, patung kepala Amenhotep III seukuran tubuh manusia dewasa itu ditemukan di lokasi penggalian reruntuhan kuil pemakaman para Firaun di kota Luxor, yang terletak di Mesir bagian selatan.
Pemimpin tim penggalian, Dr. Hourig Sourouzian, yakin bahwa itu merupakan patung Amenhotep III terbaik yang pernah ditemukan hingga kini.
Para ilmuwan melakukan tes DNA dan CT scan pada sejumlah mummi telah mengidentifikasi Amenhotep III sebagai kakek Tutakhamun, raja remaja yang lahir dari perkawinan sedarah antara Akhenaten dan saudara perempuannya, yang sama-sama keturunan Amenhotep III.
Hourig Sourouzian mengatakan kepala Amenhotep adalah salah satu dari 84 artefak yang digali di kuil pemakamannya di tepi barat Sungai Nil di Luxor.
"Kami telah mengumpulkan sejumlah besar potongan-potongan patung granit merah yang pernah berdiri di bagian selatan dari pengadilan besar di kuil penguburan Amenhotep III," kata Sourouzian sambil menambahkan bagian patung sedang diperbaiki.
"Patung-patung lain yang ditemukan selalu dalam keadaan sudah rusak, sudah terkikis entah itu di bagian hidung atau bagian lain di wajah," kata Souzourian. "Namun, patung yang ditemukan kali ini begitu mulus dan tidak ada yang rusak," lanjut dia.
Amenhotep III adalah kakek Firaun cilik yang terkenal, yaitu Tutankhamun. Dia memerintah Mesir Kuno dari 1387-1348 Sebelum Masehi (SM). Saat itu Kerajaan Mesir tengah mengalami puncak kejayaan dan memerintah wilayah yang lebih luas, dari Nubia di selatan hingga Suriah di utara.
Menurut Souzourian, Amenhotep III terkenal membawa Mesir ke puncak peradaban kuno. Saat itu perdamaian dan kemakmuran terjadi secara bersamaan di Mesir.
Para pemahat pun menghasilkan teknik-teknik terbaik di masa mereka. Itu terlihat bahwa patung kepala Amenhotep III sudah simetris. "Penampilannya mungkin sudah persis dengan bentuk patung itu dan dia mungkin sangat tampan," kata Souzourian.
Kuil pemakaman Amenhotep III tampaknya hancur akibat banjir sehingga yang tersisa kini hanya reruntuhan dinding. Namun di lokasi itu, tim arkeolog juga berhasil menemukan sejumlah artefak dan patung, termasuk dua patung Amenhotep yang terbuat dari batu granit hitam. Benda-benda itu ditemukan Maret tahun lalu. (ini/vvn/erw)
Disariakan dari esq magazine.com oleh Moh As Syakir (bangkit.syahid@gmail.com)
Menurut Dewan Benda-benda Purbakala Mesir, patung kepala Amenhotep III seukuran tubuh manusia dewasa itu ditemukan di lokasi penggalian reruntuhan kuil pemakaman para Firaun di kota Luxor, yang terletak di Mesir bagian selatan.
Pemimpin tim penggalian, Dr. Hourig Sourouzian, yakin bahwa itu merupakan patung Amenhotep III terbaik yang pernah ditemukan hingga kini.
Para ilmuwan melakukan tes DNA dan CT scan pada sejumlah mummi telah mengidentifikasi Amenhotep III sebagai kakek Tutakhamun, raja remaja yang lahir dari perkawinan sedarah antara Akhenaten dan saudara perempuannya, yang sama-sama keturunan Amenhotep III.
Hourig Sourouzian mengatakan kepala Amenhotep adalah salah satu dari 84 artefak yang digali di kuil pemakamannya di tepi barat Sungai Nil di Luxor.
"Kami telah mengumpulkan sejumlah besar potongan-potongan patung granit merah yang pernah berdiri di bagian selatan dari pengadilan besar di kuil penguburan Amenhotep III," kata Sourouzian sambil menambahkan bagian patung sedang diperbaiki.
"Patung-patung lain yang ditemukan selalu dalam keadaan sudah rusak, sudah terkikis entah itu di bagian hidung atau bagian lain di wajah," kata Souzourian. "Namun, patung yang ditemukan kali ini begitu mulus dan tidak ada yang rusak," lanjut dia.
Amenhotep III adalah kakek Firaun cilik yang terkenal, yaitu Tutankhamun. Dia memerintah Mesir Kuno dari 1387-1348 Sebelum Masehi (SM). Saat itu Kerajaan Mesir tengah mengalami puncak kejayaan dan memerintah wilayah yang lebih luas, dari Nubia di selatan hingga Suriah di utara.
Menurut Souzourian, Amenhotep III terkenal membawa Mesir ke puncak peradaban kuno. Saat itu perdamaian dan kemakmuran terjadi secara bersamaan di Mesir.
Para pemahat pun menghasilkan teknik-teknik terbaik di masa mereka. Itu terlihat bahwa patung kepala Amenhotep III sudah simetris. "Penampilannya mungkin sudah persis dengan bentuk patung itu dan dia mungkin sangat tampan," kata Souzourian.
Kuil pemakaman Amenhotep III tampaknya hancur akibat banjir sehingga yang tersisa kini hanya reruntuhan dinding. Namun di lokasi itu, tim arkeolog juga berhasil menemukan sejumlah artefak dan patung, termasuk dua patung Amenhotep yang terbuat dari batu granit hitam. Benda-benda itu ditemukan Maret tahun lalu. (ini/vvn/erw)
Disariakan dari esq magazine.com oleh Moh As Syakir (bangkit.syahid@gmail.com)
Pastikan memperoleh pendaptan
Pastikan anda memperoleh pendapatan cukup klik http://www.asetmandiri.com/?id=syakir
Langganan:
Postingan (Atom)