Pertengahan Juni lalu saya berkesempatan jalan-jalan ke Moskow, menghadiri undangan simposium internasional bertema “Religion and Peace, From Terrorism to Global Ethics.” Bagi saya, tema ini terasa klise dan repetitive. Tetapi karena diadakan di Moskow, hati saya tertarik untuk datang. Hitung-hitung napak tilas kunjungan saya yang pertama tahun 1981 saat Uni Soviet masih tegak berdiri dan disegani Blok Barat. Dunia berputar. Tak sampai seratus tahun pemerintahan Moskow sangat anti agama, kini berusaha bersikap ramah pada ’kekuatan agama’. Uni Soviet bubar, pewaris utamanya adalah Negara Federasi Rusia.
Baik Uni Soviet, RRC maupun Korea Utara ketiganya pernah dikenal sebagai rejim yang memusuhi agama. Ironisnya, mereka menyatakan anti Tuhan, tetapi rakyat dipaksa menyembah para pemimpinnya. Mereka tidak percaya pada malaikat, tetapi intel-intelnya bekerja bagaikan malaikat yang selalu memata-matai setiap warganya. Pemerintah melarang agama, tetapi peraturan dan doktrin partai komunis tak ubahnya syariah agama.
Demikianlah, berbagai ideologi komunis dan sekularisme telah berusaha membangun doktrin dan filsafat untuk membasmi dan mengubur agama, namun kenyataannya amunisi mereka semakin menipis sementara agama tetap hidup di muka bumi. Ketika disebut agama, persoalan dan perdebatan tentu segera muncul. Agama apa yang dimaksudkan di sini? Bukankah kata agama selalu mengasumsikan makna plural, yaitu agama-agama (religions)? Dari sekian banyak agama, mana yang paling benar?
Saya tidak akan memasuki perdebatan yang tak kunjung berakhir mengenai apakah hakikat agama, definisi agama dan asal-usul agama menurut sarjana-sarjana ilmu sosial karena masing-masing memiliki argumentasi dan keyakinan yang tidak selalu sama. Yang ingin saya sampaikan hanyalah sekadar pandangan bahwa manusia dan masyarakat selalu mendambakan dan mencari Tuhan, Dia Yang Maha Absolut, terlepas apakah mereka berhasil atau tidak dalam pencariannya. Oleh karena itu dari sudut pandang ini di Indonesia sesungguhnya terdapat puluhan kepercayaan (keagamaan) namun secara politis-administratif yang diakui pemerintah hanya lima. Adakah pencarian dan keyakinan mereka diterima Tuhan atau tidak, itu masuk wilayah akidah dan keyakinan, bukan lagi wilayah ilmiah.
Jika kita hitung, pemikir dan pemimpin dunia yang mengingkari Tuhan dan anti agama sesungguhnya jumlahnya tergolong minoritas. Namun, di antara mereka ada yang memiliki pengikut besar. Bisa jadi karena kekuatan gagasannya yang tersebar melalui buku-buku, atau karena kekuasaan politik yang dimiliki. Sebut saja di antara mereka adalah Karl Marx, Engels, Lenin, Nietzche, Sartre, Sigmund Freud, Michael Baqunin, August Comte, Charles Darwin, Bertrand Russel dan beberapa nama lain yang pemikirannya berseliweran masuk ruang kuliah di kampus.
Semakin terbukanya jalur, sarana dan forum komunikasi lintas agama, budaya dan bangsa, dunia terasa semakin hiruk-pikuk, termasuk wacana keagamaan. Jutaan buku dan artikel pernah terbit, yang isinya ada yang bernafsu sekali ingin meyakinkan pembacanya bahwa agama tak lagi diperlukan oleh masyarakat modern. Agama tak lebih dari sebuah khayalan orang-orang frustasi dan kalah bersaing dalam perjuangan politik dan ekonomi. Menurut mereka, agama adalah jalan pelarian dari kekalahan. Agama menawarkan hiburan berupa proyeksi dan harapan palsu tentang surga di masa depan agar hidup tetap survive dan beban hidup menjadi ringan. Lebih jauh lagi dikatakan, agama akhirnya jadi sumber masalah sosial, bukannya bagian dari solusi sosial.
Demikianlah, beragam teori dan jutaan lembar buku telah beredar dengan maksud untuk membunuh pemikiran dan gerakan keagamaan. Namun ternyata keyakinan mereka meleset. Agama tidak pernah mati. Kehidupan justru menjadi semakin bermakna ketika agama difahami dan diamalkan dengan benar. Sampai-sampai muncul istilah, agama memiliki seribu nyawa. Dibunuh satu, masih hidup 999. Dari sudut pandang psikologi-tasawuf, dorongan seseorang untuk beragama tidak mungkin mati karena setiap manusia menerima ruh ilahi yang senantiasa merindukan Tuhannya, sedangkan ruh tidak mengenal kehancuran dan kematian karena ruh bersifat immateri dan abadi. Begitu banyak tanda-tanda keberadaan dan keagungan Tuhan. Begitu banyak problem, misteri, dan keindahan hidup yang mendorong manusia berpikir, siapa pencipta semua ini kalau bukan Tuhan. Seorang seniman yang hatinya telah tercerahkan sambil memandang sekuntum mawar berkata: "God never puts His name on the rose, because no one else makes the rose." Ungkapan senada bisa diperpanjang, misalnya: "God never puts His name on the sky, because no one else has ability to make it."
Sebagai seorang muslim mesti yakin bahwa Islam adalah ajaran paling benar di mata Allah. Namun secara sosiologis kita tidak bisa mengingkari kenyataan bahwa bumi dihuni oleh manusia dengan ragam agama. Berkaitan dengan pluralitas agama, Al-Qur’an secara eksplisit berulangkali mengungkapkan bahwa keanekaragaman flora, fauna dan bangsa, bahasa serta agama semua itu merupakan tanda-tanda kebesaranNya. Ditegaskan dalam Al-Qur’an, tak ada paksaan dalam beragama, karena sesungguhnya antara yang benar dan yang salah sudah begitu nyata, bagi mereka yang hati dan pikirannya terbuka. Bahkan terhadap orang-orang kafir yang membangkang, Allah mengajarkan kepada Rasulullah: bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Namun begitu ingatlah bahwa apapun pilihan iman dan amal seseorang, nantinya Aku (Allah) akan membuat perhitungan dan pengadilan.
Dahulu ketika jumlah penduduk bumi masih sedikit, hidupnya pun saling berjauhan dan alat telekomunikasi belum maju. Penduduk sebuah desa mungkin hidup tenang dengan tradisi yang ada, tak ada pertengkaran soal perbedaan agama. Tetapi bagi generasi anak-anak kita sekarang, realitas dan wajah kehidupan akan terasa semakin warna-warni, yang ada kalanya tampak indah dan ada kalanya membingungkan. Oleh karena itu diperlukan pemahaman agama yang benar serta keteladanan dari orang dalam mengamalkannya. Beragama tidak cukup hanya mengandalkan simbol-simbol lahiriah serta ritus jasmaniah. Hakikat tauhid dan keshalehan harus dimulai dan berakar kuat di dalam hati dan penalaran sehat, lalu diikuti dengan pengamalan yang tulus dan benar.
Di masa Rasulullah dan sahabat, banyak orang kafir tertarik pada Islam karena akhlak mulia yang ditunjukkan oleh tokoh-tokohnya, baru kemudian mereka mendalami dan meyakini kemuliaan dan kebenaran agamanya. Kita berharap training ESQ dan kajian-kajian lanjutan yang tengah dipersiapkan akan bisa menambah bobot keimanan dan pengetahuan yang benar tentang Islam secara lebih substansial, bukan sekadar formal dan seremonial. Terdapat isyarat kuat bahwa agama semakin bangkit dan menguat dalam panggung dunia. Tetapi, paham dan perilaku keberagamaan yang bagaimanakah yang paling mendekati kehendak Allah dan fitrah manusia, itulah yang harus selalu dikaji dalam komunitas ESQ.
(Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Nebula (ESQ Magazine) Edisi 09/Tahun I/2005)
Minggu, 07 Maret 2010
Jumat, 05 Maret 2010
Spiritualitas, New Age, dan Kultus
Penulis :Prof AzZumardi Azra
Pencarian rohani adalah perennial quest --percarian umat manusia yang tidak pernah berakhir. Umumnya orang meningkatkan kehidupan spiritualnya melalui agama, khususnya lewat aspek "batin", bagian terdalam dari agama, yang dalam Islam disebut sebagai tasawuf (sufisme).
Tapi juga ada orang-orang yang karena berbagai alasan tidak puas dengan agama mapan (established religion). Pemahaman dan pengamalan agama yang terlalu literal atau kepemimpinan agama yang tidak memperlihatkan empati, misalnya, merupakan sebagian alasan pokok sementara orang menjauh dari agama mapan; dan sebaliknya masuk ke dalam pangkuan aliran spiritual.
Selain alasan ketidakpuasan internal keagamaan, disorientasi dalam kehidupan pribadi, keluarga, lingkungan, dan masyarakat lebih luas juga dapat mendorong orang mencari kenyamanan rohani "alternatif". Dalam situasi ini, orang cenderung mengambil cara-cara tidak konvensional dan tidak ortodoks. Persisnya, menceburkan diri ke dalam aliran spiritualisme tertentu yang mereka anggap lebih "menjanjikan".
Aliran-aliran spiritual di luar agama mapan biasa juga dikenal sebagai New Age --spiritualisme zaman baru yang banyak mewabah di Amerika Serikat, terutama pada 1960-1970-an. Sebagian muncul sebagai reaksi terhadap Perang Vietnam dan juga terhadap materialisme dan hedonisme Amerika.
Lazimnya, New Age menggabungkan berbagai tradisi spiritualisme, mulai monatisisme Kristen, mistisisme yoga Hindu dan Buddha, sampai pseudo-sufisme. Ada pretensi monisme spiritual di sini, yang tentu saja sangat sinkretik.
New Age umumnya berpusat pada figur tunggal yang dipercayai para pengikutnya memiliki kekuatan spiritual tertentu, yang bisa mendatangkan kemajuan atau bahkan kesempurnaan rohaniah. Karena otoritas spiritual berpusat pada seorang figur tunggal, maka aliran spiritual segera berkembang menjadi cult --kultus (individu).
Dengan semua karakter seperti itu, cult menjadi sangat tergantung "sang guru". Kalau dia permisif dalam soal seks, maka cult-nya bisa berupa pengayaan rohani melalui seks (sex as a ritual). Kalau sang guru percaya pada "kiamat yang segera datang", sangat boleh jadi dia memerintahkan para pengikutnya menebus dosa dengan cara bunuh diri.
Masyarakat Indonesia jelas tidak imun dari semua gejala di atas. Apalagi di zaman globalisasi yang bagi sebagian orang adalah masa meningkatnya disorientasi dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk agama. Maka, kian banyak muncul aliran yang menyempal dari agama mapan. New Age dan berbagai aliran spiritual pun menjamur. Kehebohan di sekitar Anand Krishna dengan sejumlah muridnya di Anand Ashram agaknya hanyalah puncak dari gunung es yang tersembunyi dari permukaan.
Akhirnya, pencarian spiritual tetap saja memerlukan akal sehat, jika tidak ingin terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak diinginkan.
Azyumardi Azra
Guru besar sejarah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
[Perspektif, Gatra Nomor 16 Beredar Kamis, 25 Februari 2010
Pencarian rohani adalah perennial quest --percarian umat manusia yang tidak pernah berakhir. Umumnya orang meningkatkan kehidupan spiritualnya melalui agama, khususnya lewat aspek "batin", bagian terdalam dari agama, yang dalam Islam disebut sebagai tasawuf (sufisme).
Tapi juga ada orang-orang yang karena berbagai alasan tidak puas dengan agama mapan (established religion). Pemahaman dan pengamalan agama yang terlalu literal atau kepemimpinan agama yang tidak memperlihatkan empati, misalnya, merupakan sebagian alasan pokok sementara orang menjauh dari agama mapan; dan sebaliknya masuk ke dalam pangkuan aliran spiritual.
Selain alasan ketidakpuasan internal keagamaan, disorientasi dalam kehidupan pribadi, keluarga, lingkungan, dan masyarakat lebih luas juga dapat mendorong orang mencari kenyamanan rohani "alternatif". Dalam situasi ini, orang cenderung mengambil cara-cara tidak konvensional dan tidak ortodoks. Persisnya, menceburkan diri ke dalam aliran spiritualisme tertentu yang mereka anggap lebih "menjanjikan".
Aliran-aliran spiritual di luar agama mapan biasa juga dikenal sebagai New Age --spiritualisme zaman baru yang banyak mewabah di Amerika Serikat, terutama pada 1960-1970-an. Sebagian muncul sebagai reaksi terhadap Perang Vietnam dan juga terhadap materialisme dan hedonisme Amerika.
Lazimnya, New Age menggabungkan berbagai tradisi spiritualisme, mulai monatisisme Kristen, mistisisme yoga Hindu dan Buddha, sampai pseudo-sufisme. Ada pretensi monisme spiritual di sini, yang tentu saja sangat sinkretik.
New Age umumnya berpusat pada figur tunggal yang dipercayai para pengikutnya memiliki kekuatan spiritual tertentu, yang bisa mendatangkan kemajuan atau bahkan kesempurnaan rohaniah. Karena otoritas spiritual berpusat pada seorang figur tunggal, maka aliran spiritual segera berkembang menjadi cult --kultus (individu).
Dengan semua karakter seperti itu, cult menjadi sangat tergantung "sang guru". Kalau dia permisif dalam soal seks, maka cult-nya bisa berupa pengayaan rohani melalui seks (sex as a ritual). Kalau sang guru percaya pada "kiamat yang segera datang", sangat boleh jadi dia memerintahkan para pengikutnya menebus dosa dengan cara bunuh diri.
Masyarakat Indonesia jelas tidak imun dari semua gejala di atas. Apalagi di zaman globalisasi yang bagi sebagian orang adalah masa meningkatnya disorientasi dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk agama. Maka, kian banyak muncul aliran yang menyempal dari agama mapan. New Age dan berbagai aliran spiritual pun menjamur. Kehebohan di sekitar Anand Krishna dengan sejumlah muridnya di Anand Ashram agaknya hanyalah puncak dari gunung es yang tersembunyi dari permukaan.
Akhirnya, pencarian spiritual tetap saja memerlukan akal sehat, jika tidak ingin terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak diinginkan.
Azyumardi Azra
Guru besar sejarah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
[Perspektif, Gatra Nomor 16 Beredar Kamis, 25 Februari 2010
INDAHNYA RAHMAN DAN RAHIM
Penulis : Hamim Thohari
Untuk kesekian kalinya, Putri mendekat dan memandangi lekat ikan-ikan yang sedang berenang dalam akuarium. Keningnya nampak berkerut dan wajahnya memancar kedukaan. Tak lama kemudian bahkan nampak sebulir air bening mulai menggayut di sudut matanya.
Sepagi itu, sudah empat kali Putri melakukan hal serupa. Matanya menatap sedih ke arah salah seekor ikan yang sedang berenang dengan posisi terbalik! Pagi itu Putri begitu tersentak ketika dibangunkan bunda dan ditegur tentang kelalaiannya. Ya, ia lupa belum memberi makan ikan-ikan di akuarium itu sejak kemarin siang!
Akibatnya, kesepuluh ikan penghuni akuarium tersebut kelaparan, lantas menyerang dan memangsa ikan terlemah, dan ikan mas koki warna oranye yang menjadi korbannya. Pagi itu, keadaannya menjadi sangat menyedihkan karena telah kehilangan ekornya. Sangat menyedihkan dalam benak Putri, ketika ia harus membayangkan betapa semalaman si ikan lemah itu lelah berenang kesana kemari dikejar-kejar ikan lain, diserang dan digigit-gigit ekor besarnya yang semula mengembang indah, hingga hanya menyisakan beberapa milimeter saja.
Karena kehilangan ekor yang semula berfungsi sebagai pengatur keseimbangan tubuhnya, si ikan tak mampu mengendalikan tubuhnya sendiri, sehingga ia hanya bisa mengambang tanpa daya dalam posisi bagian atas berada di bawah! Kondisi inilah yang membuat Putri kecil menjadi benar-benar tak tega melihatnya. Tentu dia sangat pusing dengan kepala terbalik seperti itu, batin pikiran mungilnya. Apalagi ketika ibu menjelaskan bahwa tak mungkin dalam keadaan seperti itu ia bertahan hidup lama. Berarti, akhir hidupnya tinggal menunggu waktu.
Putri merasa semakin bersalah manakala memikirkan kenyataan ini. Apa yang harus ia lakukan untuk sedikit meringankan beratnya derita yang dihadapi si ikan? Apakah dengan mempercepat membunuhnya agar ia tak tersiksa terlalu lama?
Putri kecil sedang resah. Rasa kasih sayang yang tumbuh dari dalam lubuk hatinya membuat air matanya terus menitik. Gadis berusia tujuh tahun itu tak tega membayangkan beratnya derita si ikan dalam menunggu saat kematiannya. Maka ketika dua jam berikutnya si ikan benar-benar telah mati, selain merasa sedih, ia pun bisa bersyukur karenanya.
Subhanallah, dalam diri si Putri mungil telah nampak pancaran kasih sayang. Itulah manifestasi dari rahman dan rahim yang diturunkan Allah pada manusia. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw. menyatakan, bahwa Allah SWT memiliki 100 bagian kasih sayang dan Dia baru menurunkan satu untuk dibagikan kepada seluruh alam semesta di dunia.
Dari satu bagian tersebut, Putri telah menampakkan barangkali cuma sepersepuluh milyar bagiannya. Namun sudah bisa dirasakan, betapa indah rasa kasih sayang yang terpancar dari kepolosan gadis mungil ini. Manusia tak akan mampu membayangkan, lantas seperti apa bentuk kasih sayang Allah yang masih disimpan-Nya sebanyak 99 bagian lagi? Subhanallah, itulah keberuntungan bagi mereka yang mampu mencapai surga, karena di sanalah seluruh Rahman dan Rahim-Nya yang sebenarnya bisa dirasakan.(Disarikan dari Sumber http://esqmagazine.com oleh Moh As Syakir Hasbullah)
Untuk kesekian kalinya, Putri mendekat dan memandangi lekat ikan-ikan yang sedang berenang dalam akuarium. Keningnya nampak berkerut dan wajahnya memancar kedukaan. Tak lama kemudian bahkan nampak sebulir air bening mulai menggayut di sudut matanya.
Sepagi itu, sudah empat kali Putri melakukan hal serupa. Matanya menatap sedih ke arah salah seekor ikan yang sedang berenang dengan posisi terbalik! Pagi itu Putri begitu tersentak ketika dibangunkan bunda dan ditegur tentang kelalaiannya. Ya, ia lupa belum memberi makan ikan-ikan di akuarium itu sejak kemarin siang!
Akibatnya, kesepuluh ikan penghuni akuarium tersebut kelaparan, lantas menyerang dan memangsa ikan terlemah, dan ikan mas koki warna oranye yang menjadi korbannya. Pagi itu, keadaannya menjadi sangat menyedihkan karena telah kehilangan ekornya. Sangat menyedihkan dalam benak Putri, ketika ia harus membayangkan betapa semalaman si ikan lemah itu lelah berenang kesana kemari dikejar-kejar ikan lain, diserang dan digigit-gigit ekor besarnya yang semula mengembang indah, hingga hanya menyisakan beberapa milimeter saja.
Karena kehilangan ekor yang semula berfungsi sebagai pengatur keseimbangan tubuhnya, si ikan tak mampu mengendalikan tubuhnya sendiri, sehingga ia hanya bisa mengambang tanpa daya dalam posisi bagian atas berada di bawah! Kondisi inilah yang membuat Putri kecil menjadi benar-benar tak tega melihatnya. Tentu dia sangat pusing dengan kepala terbalik seperti itu, batin pikiran mungilnya. Apalagi ketika ibu menjelaskan bahwa tak mungkin dalam keadaan seperti itu ia bertahan hidup lama. Berarti, akhir hidupnya tinggal menunggu waktu.
Putri merasa semakin bersalah manakala memikirkan kenyataan ini. Apa yang harus ia lakukan untuk sedikit meringankan beratnya derita yang dihadapi si ikan? Apakah dengan mempercepat membunuhnya agar ia tak tersiksa terlalu lama?
Putri kecil sedang resah. Rasa kasih sayang yang tumbuh dari dalam lubuk hatinya membuat air matanya terus menitik. Gadis berusia tujuh tahun itu tak tega membayangkan beratnya derita si ikan dalam menunggu saat kematiannya. Maka ketika dua jam berikutnya si ikan benar-benar telah mati, selain merasa sedih, ia pun bisa bersyukur karenanya.
Subhanallah, dalam diri si Putri mungil telah nampak pancaran kasih sayang. Itulah manifestasi dari rahman dan rahim yang diturunkan Allah pada manusia. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw. menyatakan, bahwa Allah SWT memiliki 100 bagian kasih sayang dan Dia baru menurunkan satu untuk dibagikan kepada seluruh alam semesta di dunia.
Dari satu bagian tersebut, Putri telah menampakkan barangkali cuma sepersepuluh milyar bagiannya. Namun sudah bisa dirasakan, betapa indah rasa kasih sayang yang terpancar dari kepolosan gadis mungil ini. Manusia tak akan mampu membayangkan, lantas seperti apa bentuk kasih sayang Allah yang masih disimpan-Nya sebanyak 99 bagian lagi? Subhanallah, itulah keberuntungan bagi mereka yang mampu mencapai surga, karena di sanalah seluruh Rahman dan Rahim-Nya yang sebenarnya bisa dirasakan.(Disarikan dari Sumber http://esqmagazine.com oleh Moh As Syakir Hasbullah)
Selasa, 02 Maret 2010
Lagu Cinta by Muhammad Harry Naldi
Muhamad Harry Naldi
Cinta adalah sesuatu yang indah, membuat yang merasakannya begitu senang dan bahagia. Rasa cinta terhadap seseorang menjadikannya begitu ekspresif dan kreatif sehingga banyak kisah yang dituangkan dalam bentuk film, drama, dan pertunjukan lainnya. Kisah roman percintaan dalam novel atau cerita pendek digambarkan demikian indah, membuat kita terbuai, larut dalam ceritanya.. Begitu pula dengan untaian puisi, syair, dan lagu. Tak terhitung banyaknya lagu tentang cinta, dari yang gembira ketika jatuh cinta hingga yang sedih mendayu-dayu ketika ditinggal kekasih.
“Jatuh cinta berjuta rasanya... dia datang dan pergi terbayang wajahnya...
Jatuh cinta berjuta indahnya, tertawa menangisnya karena jatuh cinta oh asyiknya...“
“Cintaku, gelora asmara seindah lembayung senja, tiada ada yang kuasa melebihi indahnya nikmatnya cinta.”
‘Aku cinta padamu, sungguh...aku cinta padamu kasih..”
“Begetar hatiku, saat ku jatuh cinta padamu, di dalam hati kutuliskan nama dirimu..”
Banyaknya syair dan lagu yang diilhami oleh cinta karena manusia merasakan betapa indahnya cinta itu. Cinta diwujudkan dalam ungkapan rasa kasih dan sayang. Betapa beruntungnya kita memiliki Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ia telah menetapkan atas diriNya untuk menebarkan kasih sayang (Qs 6:12). Kasih sayang merupakan sifat dari namaNya yang indah ArRahman ArRahim, yang mengutus Rasulullah SAW untuk menebarkan kasih sayang ke seluruh penjuru alam semesta (Qs 21:107). Dengan sifatNya itu, Allah mengampuni semua dosa-doa, ketika kita memohon ampun, meki begitu banyak dan besarnya dosa kita. Karena kasih sayang Allah, lebih besar dari amarahNya (Hadits, Bukhari-Muslim).
Namun pernahkah kita mengungkapkan rasa cinta kepada Sang Pemilik Rasa Kasih Sayang itu? Apakah kita sudah membalas cintanya Allah SWT? Jangan-jangan kita “lupa’ mencintainya. Karena seringkali tanpa disadari kita lebih memikirkan orang lain dari pada memikirkan Allah dan penciptaan alam semesta. Seringkali kita mendendangkan lagu tapi isi syairnya terkesan bahwa bukan Allah SWT semata yang kita cintai. Simaklah syair lagu berikut ini:
“Aku mau hidup denganmu, aku mau matipun karenamu, aku mau sisa waktuku bersamamu...kaulah hidup dan matiku...”
“Kau tercipta hanya untukku, aku lahir hanya untukmu.. janganlah bimbang janganlah ragu…hatiku hanyalah milikmu seorang...”
“Akulah penjagamu, akulah pelindungmu, akulah pendampingmu di setiap langkah-langkahmu...“
“Aku mau makan ingat kamu, aku mau tidur ingat kamu...”
“Kau adalah darahku, kau adalah jantungku, kau adalah hidupku, lengkapi diriku, oh sayangku kau begitu... sempurna”
Itulah sebagian syair lagu yang senantiasa disukai dan kerap dinyanyikan. Melodinya begitu indah, sampai tak terasa kita hanyut didalamnya. Sering diputar di radio, dan televisi. Membuat kita dengan sendirinya hafal, lalu tanpa sadar turut mendendangkannya...
Begitu besar cinta seseorang terhadap orang lain. Tanpa menyadari bahwa ada yang harus dicintai melebihi segalanya, yakni rasa cinta kepada Sang Pencipta. Dari lagu “Kaulah hidup dan matiku”, bukankah dalam sholat kita senantiasa membaca doa Iftitah (pembuka), “Sesungguhnya, sholatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata hanya untuk Allah Rabbal Alamiin”?
“Kau tercipta hanya untuku?” bukankah kita diciptakan untuk beribadah kepadanya? Tidak kuciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku (Ad Dzariyat: 56).
“Kau begitu sempurna.” Bukankah tidak ada manusia yang sempurna? Setiap manusia memiliki kekurangan. Yang Maha Sempurna hanya Allah SWT.
“Akulah pelindungmu, akulah penjagamu di setiap langkah-langkahmu...”
Siapakah penjaga dan pelindung kita sesungguhnya? Bukankah Allah SWT satu-satunya tempat kita memohon dan berlindung? “Allah sebaik-baiknya penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang (Qs. Yusuf : 64)
“Kemana-mana ingat dirimu?” Bukankah hakekat dzikir adalah mengingat Allah, baik dikala berdiri, duduk maupun dalam keadaan berbaring..? (Qs Ali Imran: 191)
Lebay alias berlebih-lebihan dalam mencintai sesama makhluk ciptaan Allah tak ubahnya seperti kita “menyembah” sesuatu selain Allah. Bila hati berdebar dan gemetar ketika teringat kekasih lalu bagaimana hati kita bila mengingat Allah? Oleh karena itu cobalah dirasakan, apakah hati gemetar ketika ada yang menyebut nama Allah dan membaca ayat-ayat Al Quran? “Sesungguhnya orang yang beriman itu, adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya, bertambahlah keimanannya..” (Qs Al Anfaal :2)
Boleh saja mencintai lawan jenis, suami/isteri atau anak bahkan harta benda, tapi hendaklah jangan melebihi kecintaan kita terhadap Allah SWT. Karena sesungguhnya Allah SWT begitu mencintai kita dan meghendaki agar kita kembali ke tempat yang terbaik. “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan disi Allah tempat kembali yang baik (surga). (Qs Ali Imraan: 14).
Semoga Allah SWT mengampuni semua dosa, kekeliruan dan kesalahan kita. Jadi, mari nyanyikan lagu (cinta yang lebay) dengan menggantikan maknanya dihati agar ditujukan semata-mata hanya untuk Allah SWT: “...Terima kasih CINTA untuk segalanya KAU berikan lagi kesempatan itu, tak akan terulang lagi semmuuuaaa... kesalahanku... yang pernah ‘menyakiti’MU...” dst.
Tulisan ini diunduh dari Email yang dikrimkan kepada syakir_has@yahoo.co.id.
Cinta adalah sesuatu yang indah, membuat yang merasakannya begitu senang dan bahagia. Rasa cinta terhadap seseorang menjadikannya begitu ekspresif dan kreatif sehingga banyak kisah yang dituangkan dalam bentuk film, drama, dan pertunjukan lainnya. Kisah roman percintaan dalam novel atau cerita pendek digambarkan demikian indah, membuat kita terbuai, larut dalam ceritanya.. Begitu pula dengan untaian puisi, syair, dan lagu. Tak terhitung banyaknya lagu tentang cinta, dari yang gembira ketika jatuh cinta hingga yang sedih mendayu-dayu ketika ditinggal kekasih.
“Jatuh cinta berjuta rasanya... dia datang dan pergi terbayang wajahnya...
Jatuh cinta berjuta indahnya, tertawa menangisnya karena jatuh cinta oh asyiknya...“
“Cintaku, gelora asmara seindah lembayung senja, tiada ada yang kuasa melebihi indahnya nikmatnya cinta.”
‘Aku cinta padamu, sungguh...aku cinta padamu kasih..”
“Begetar hatiku, saat ku jatuh cinta padamu, di dalam hati kutuliskan nama dirimu..”
Banyaknya syair dan lagu yang diilhami oleh cinta karena manusia merasakan betapa indahnya cinta itu. Cinta diwujudkan dalam ungkapan rasa kasih dan sayang. Betapa beruntungnya kita memiliki Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ia telah menetapkan atas diriNya untuk menebarkan kasih sayang (Qs 6:12). Kasih sayang merupakan sifat dari namaNya yang indah ArRahman ArRahim, yang mengutus Rasulullah SAW untuk menebarkan kasih sayang ke seluruh penjuru alam semesta (Qs 21:107). Dengan sifatNya itu, Allah mengampuni semua dosa-doa, ketika kita memohon ampun, meki begitu banyak dan besarnya dosa kita. Karena kasih sayang Allah, lebih besar dari amarahNya (Hadits, Bukhari-Muslim).
Namun pernahkah kita mengungkapkan rasa cinta kepada Sang Pemilik Rasa Kasih Sayang itu? Apakah kita sudah membalas cintanya Allah SWT? Jangan-jangan kita “lupa’ mencintainya. Karena seringkali tanpa disadari kita lebih memikirkan orang lain dari pada memikirkan Allah dan penciptaan alam semesta. Seringkali kita mendendangkan lagu tapi isi syairnya terkesan bahwa bukan Allah SWT semata yang kita cintai. Simaklah syair lagu berikut ini:
“Aku mau hidup denganmu, aku mau matipun karenamu, aku mau sisa waktuku bersamamu...kaulah hidup dan matiku...”
“Kau tercipta hanya untukku, aku lahir hanya untukmu.. janganlah bimbang janganlah ragu…hatiku hanyalah milikmu seorang...”
“Akulah penjagamu, akulah pelindungmu, akulah pendampingmu di setiap langkah-langkahmu...“
“Aku mau makan ingat kamu, aku mau tidur ingat kamu...”
“Kau adalah darahku, kau adalah jantungku, kau adalah hidupku, lengkapi diriku, oh sayangku kau begitu... sempurna”
Itulah sebagian syair lagu yang senantiasa disukai dan kerap dinyanyikan. Melodinya begitu indah, sampai tak terasa kita hanyut didalamnya. Sering diputar di radio, dan televisi. Membuat kita dengan sendirinya hafal, lalu tanpa sadar turut mendendangkannya...
Begitu besar cinta seseorang terhadap orang lain. Tanpa menyadari bahwa ada yang harus dicintai melebihi segalanya, yakni rasa cinta kepada Sang Pencipta. Dari lagu “Kaulah hidup dan matiku”, bukankah dalam sholat kita senantiasa membaca doa Iftitah (pembuka), “Sesungguhnya, sholatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata hanya untuk Allah Rabbal Alamiin”?
“Kau tercipta hanya untuku?” bukankah kita diciptakan untuk beribadah kepadanya? Tidak kuciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku (Ad Dzariyat: 56).
“Kau begitu sempurna.” Bukankah tidak ada manusia yang sempurna? Setiap manusia memiliki kekurangan. Yang Maha Sempurna hanya Allah SWT.
“Akulah pelindungmu, akulah penjagamu di setiap langkah-langkahmu...”
Siapakah penjaga dan pelindung kita sesungguhnya? Bukankah Allah SWT satu-satunya tempat kita memohon dan berlindung? “Allah sebaik-baiknya penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang (Qs. Yusuf : 64)
“Kemana-mana ingat dirimu?” Bukankah hakekat dzikir adalah mengingat Allah, baik dikala berdiri, duduk maupun dalam keadaan berbaring..? (Qs Ali Imran: 191)
Lebay alias berlebih-lebihan dalam mencintai sesama makhluk ciptaan Allah tak ubahnya seperti kita “menyembah” sesuatu selain Allah. Bila hati berdebar dan gemetar ketika teringat kekasih lalu bagaimana hati kita bila mengingat Allah? Oleh karena itu cobalah dirasakan, apakah hati gemetar ketika ada yang menyebut nama Allah dan membaca ayat-ayat Al Quran? “Sesungguhnya orang yang beriman itu, adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya, bertambahlah keimanannya..” (Qs Al Anfaal :2)
Boleh saja mencintai lawan jenis, suami/isteri atau anak bahkan harta benda, tapi hendaklah jangan melebihi kecintaan kita terhadap Allah SWT. Karena sesungguhnya Allah SWT begitu mencintai kita dan meghendaki agar kita kembali ke tempat yang terbaik. “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan disi Allah tempat kembali yang baik (surga). (Qs Ali Imraan: 14).
Semoga Allah SWT mengampuni semua dosa, kekeliruan dan kesalahan kita. Jadi, mari nyanyikan lagu (cinta yang lebay) dengan menggantikan maknanya dihati agar ditujukan semata-mata hanya untuk Allah SWT: “...Terima kasih CINTA untuk segalanya KAU berikan lagi kesempatan itu, tak akan terulang lagi semmuuuaaa... kesalahanku... yang pernah ‘menyakiti’MU...” dst.
Tulisan ini diunduh dari Email yang dikrimkan kepada syakir_has@yahoo.co.id.
Senin, 01 Maret 2010
WAJAH FIR'AUN
INGIN tahu bagaimana wajah nenek moyang Fir’aun? Datang saja ke Mesir karena baru-baru ini tim arkeolog berhasil menemukan sebuah patung besar yang mengabadikan kepala salah satu raja (Firaun) Mesir Kuno yang paling terkemuka, Amenhotep III. Raja itu memerintah Mesir 3.400 tahun lampau.
Menurut Dewan Benda-benda Purbakala Mesir, patung kepala Amenhotep III seukuran tubuh manusia dewasa itu ditemukan di lokasi penggalian reruntuhan kuil pemakaman para Firaun di kota Luxor, yang terletak di Mesir bagian selatan.
Pemimpin tim penggalian, Dr. Hourig Sourouzian, yakin bahwa itu merupakan patung Amenhotep III terbaik yang pernah ditemukan hingga kini.
Para ilmuwan melakukan tes DNA dan CT scan pada sejumlah mummi telah mengidentifikasi Amenhotep III sebagai kakek Tutakhamun, raja remaja yang lahir dari perkawinan sedarah antara Akhenaten dan saudara perempuannya, yang sama-sama keturunan Amenhotep III.
Hourig Sourouzian mengatakan kepala Amenhotep adalah salah satu dari 84 artefak yang digali di kuil pemakamannya di tepi barat Sungai Nil di Luxor.
"Kami telah mengumpulkan sejumlah besar potongan-potongan patung granit merah yang pernah berdiri di bagian selatan dari pengadilan besar di kuil penguburan Amenhotep III," kata Sourouzian sambil menambahkan bagian patung sedang diperbaiki.
"Patung-patung lain yang ditemukan selalu dalam keadaan sudah rusak, sudah terkikis entah itu di bagian hidung atau bagian lain di wajah," kata Souzourian. "Namun, patung yang ditemukan kali ini begitu mulus dan tidak ada yang rusak," lanjut dia.
Amenhotep III adalah kakek Firaun cilik yang terkenal, yaitu Tutankhamun. Dia memerintah Mesir Kuno dari 1387-1348 Sebelum Masehi (SM). Saat itu Kerajaan Mesir tengah mengalami puncak kejayaan dan memerintah wilayah yang lebih luas, dari Nubia di selatan hingga Suriah di utara.
Menurut Souzourian, Amenhotep III terkenal membawa Mesir ke puncak peradaban kuno. Saat itu perdamaian dan kemakmuran terjadi secara bersamaan di Mesir.
Para pemahat pun menghasilkan teknik-teknik terbaik di masa mereka. Itu terlihat bahwa patung kepala Amenhotep III sudah simetris. "Penampilannya mungkin sudah persis dengan bentuk patung itu dan dia mungkin sangat tampan," kata Souzourian.
Kuil pemakaman Amenhotep III tampaknya hancur akibat banjir sehingga yang tersisa kini hanya reruntuhan dinding. Namun di lokasi itu, tim arkeolog juga berhasil menemukan sejumlah artefak dan patung, termasuk dua patung Amenhotep yang terbuat dari batu granit hitam. Benda-benda itu ditemukan Maret tahun lalu. (ini/vvn/erw)
Disariakan dari esq magazine.com oleh Moh As Syakir (bangkit.syahid@gmail.com)
Menurut Dewan Benda-benda Purbakala Mesir, patung kepala Amenhotep III seukuran tubuh manusia dewasa itu ditemukan di lokasi penggalian reruntuhan kuil pemakaman para Firaun di kota Luxor, yang terletak di Mesir bagian selatan.
Pemimpin tim penggalian, Dr. Hourig Sourouzian, yakin bahwa itu merupakan patung Amenhotep III terbaik yang pernah ditemukan hingga kini.
Para ilmuwan melakukan tes DNA dan CT scan pada sejumlah mummi telah mengidentifikasi Amenhotep III sebagai kakek Tutakhamun, raja remaja yang lahir dari perkawinan sedarah antara Akhenaten dan saudara perempuannya, yang sama-sama keturunan Amenhotep III.
Hourig Sourouzian mengatakan kepala Amenhotep adalah salah satu dari 84 artefak yang digali di kuil pemakamannya di tepi barat Sungai Nil di Luxor.
"Kami telah mengumpulkan sejumlah besar potongan-potongan patung granit merah yang pernah berdiri di bagian selatan dari pengadilan besar di kuil penguburan Amenhotep III," kata Sourouzian sambil menambahkan bagian patung sedang diperbaiki.
"Patung-patung lain yang ditemukan selalu dalam keadaan sudah rusak, sudah terkikis entah itu di bagian hidung atau bagian lain di wajah," kata Souzourian. "Namun, patung yang ditemukan kali ini begitu mulus dan tidak ada yang rusak," lanjut dia.
Amenhotep III adalah kakek Firaun cilik yang terkenal, yaitu Tutankhamun. Dia memerintah Mesir Kuno dari 1387-1348 Sebelum Masehi (SM). Saat itu Kerajaan Mesir tengah mengalami puncak kejayaan dan memerintah wilayah yang lebih luas, dari Nubia di selatan hingga Suriah di utara.
Menurut Souzourian, Amenhotep III terkenal membawa Mesir ke puncak peradaban kuno. Saat itu perdamaian dan kemakmuran terjadi secara bersamaan di Mesir.
Para pemahat pun menghasilkan teknik-teknik terbaik di masa mereka. Itu terlihat bahwa patung kepala Amenhotep III sudah simetris. "Penampilannya mungkin sudah persis dengan bentuk patung itu dan dia mungkin sangat tampan," kata Souzourian.
Kuil pemakaman Amenhotep III tampaknya hancur akibat banjir sehingga yang tersisa kini hanya reruntuhan dinding. Namun di lokasi itu, tim arkeolog juga berhasil menemukan sejumlah artefak dan patung, termasuk dua patung Amenhotep yang terbuat dari batu granit hitam. Benda-benda itu ditemukan Maret tahun lalu. (ini/vvn/erw)
Disariakan dari esq magazine.com oleh Moh As Syakir (bangkit.syahid@gmail.com)
Pastikan memperoleh pendaptan
Pastikan anda memperoleh pendapatan cukup klik http://www.asetmandiri.com/?id=syakir
Senandung Talbiyah
M Muchlas Abror
JAMAAH calon haji dari Indonesia secara bertahap diberangkatkan ke Tanah Suci dari 11 embarkasi untuk menunaikan ibadah haji yang menjadi Rukun Islam yang ke lima. Saudara-saudara kita seiman, yang pada tahun ini berkesempatan menunaikan ibadah haji, pantas bergembira dan berbahagia serta harus bersyukur. Kita ucapkan selamat kepada mereka. Semoga mendapatkan haji mabrur.
Mereka yang dapat berhaji pada tahun ini tentulah bergembira dan berbahagia Karena setelah sabar menunggu selama beberapa tahun, akhirnya yang ditunggu telah datang, yang diharap telah tiba, dan yang didambakan telah menjadi kenyataan. Apalagi, selama beberapa tahun ini berlaku ketentuan siapa yang mendaftarkan untuk berhaji pada tahun ini tidak pasti bisa berangkat pada tahun ini. Tetapi harus bersabar menunggu beberapa tahun lagi hingga datangnya giliran. Jadi, bisa berangkat berhaji pada tahun ini tentulah merupakan kegembiraan dan kebahagiaan tersendiri. Selain itu harus bersyukur, karena pada saat negeri kita sedang dilanda beberapa musibah, misal, gempa bumi yang melanda beberapa kota yang banyak merenggut korban, meruntuhkan gedung-gedung, tempat-tempat ibadah, menghancurkan rumah-rumah penduduk, dan lain-lain, tetapi saudara-saudara kita itu tetap dapat berangkat ke Tanah Suci. Mereka hendaklah dapat membuktikan rasa syukur dengan peduli membantu para penderita korban gempa tersebut, baik sebelum berangkat ke maupun sesudah kembali dari Tanah Suci.
Saya setuju pembatasan jumlah umat Islam di dunia termasuk di dalamnya dari Indonesia setiap tahun yang hendak menunaikan ibadah haji. Prioritaskan kepada mereka yang untuk pertama kali hendak berhaji. Sedangkan kepada mereka yang hendak menunaikan ibadah haji yang ke-2, ke-3, dan seterusnya tetap diberi kesempatan, tetapi harus sabar menunggu setelah lima tahun kemudian. Pembatasan itu justru untuk memberi kenyamanan dan keamanan bagi mereka yang sedang menunaikan ibadah haji. Sebab, betapa pun luasnya Masjidil Haram tempat untuk thawaf dan sa’i, padang Arafah untuk wukuf, dan Mina untuk melontar jumrah (walaupun sudah dibangun bertingkat), namun daya tampungnya tetap terbatas.
Ibadah haji berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya dalam Rukun Islam. Ibadah shalat lima waktu, misalnya, merupakan kewajiban yang bersifat harian. Sedangkan ibadah puasa Ramadlan selama satu bulan adalah kewajiban yang bersifat tahunan. Kedua macam ibadah itu tidak dikaitkan dengan kaya dan miskin, punya dan tidak punya. Tidak demikian halnya dengan ibadah haji.
Ibadah yang satu ini merupakan kewajiban satu kali dalam seumur hidup. Selebihnya, menunaikan ibadah haji yang ke-2, ke-3, dan seterusnya bukan lagi merupakan kewajiban, tetapi keutamaan. Meskipun haji merupakan kewajiban satu kali dalam seumur hidup, namun kewajiban ini masih dikaitkan dengan kesanggupan/kemampuan (Q.s. Ali Imran [3] : 97).
Setiap orang beragama Islam atau mukmin menjadikan menunaikan ibadah haji salah satu cita-cita hidupnya. Kapan suatu waktu dapat berhaji menjadi dambaannya. Untuk dapat mencapainya, maka ia harus bekerja keras, tidak boleh malas. Dengan demikian, selain ia dapat menyukupi keperluan diri dan keluarganya, juga dapat menabung dari waktu ke waktu, sedikit demi sedikit, tetapi lama-kelamaan menjadi bukit. Ketika tabungan dibuka, ternyata telah cukup untuk mendaftar dan membayar Ongkos Naik Haji (ONH) selain biaya yang ditinggalkan bagi keperluan keluarga selama menunaikan ibadah haji. Akhirnya menjadi kenyataan, ia dapat memenuhi panggilan Allah untuk dapat memenuhi rasa rindu kepada-Nya. Tentu ini merupakan nikmat dan rahmat bisa berangkat menjadi tamu-Nya.
Mukminin dari Indonesia berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan Rukun Islam yang ke-lima. Mereka meninggalkan Tanah Air menggunakan pesawat udara melintasi lautan, udara, dan beberapa negara. Begitu jauhnya jarak antara Indonesia dan Arab Saudi, meskipun sudah menggunakan pesawat udara, namun dari embarkasi keberangkatan sampai Jeddah masih memerlukan waktu 11 jam. Barulah setelah sampai Jeddah, mereka yang masuk jamaah haji gelombang pertama terus menuju ke Madinah. Di kota ini diberi waktu selama sembilan hari. Setelah itu kemudian ke Mekkah untuk berhaji. Sedangkan mereka yang masuk gelombang ke dua, dari Jeddah terus langsung ke Makkah. Setelah selesai menunaikan ibadah haji, barulah berikutnya ke Madinah. Kita dapat membayangkan betapa perjalanan berhaji itu cukup melelahkan. Tetapi menggembirakan, membahagiakan, dan memberi pengalaman rohaniyah yang berarti.
Setelah mereka berbusana ihram mulai dari tempat yang telah ditentukan, selama dalam perjalanan, mereka bersenandung. “Labbaiik. Allaahumma labbaiik. Labbaiik laa syariikalaka labbaiik. Innal hamda wanni’mata laka wal mulk. Laa syariikalak” – “Aku datang untuk memenuhi panggilan-Mu. Ya Allah, sungguh, aku datang semata-mata untuk memenuhi panggilan-Mu. Aku datang karena perintah-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, dan aku datang untuk mematuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kekuasaan itu hanyalah bagi dan milik-Mu semata. Tiada sekutu bagi-Mu”. Senandung nyanyian mereka itu beralun, berirama. Kadang terdengar meninggi, merendah, dan kadang datar. Silih berganti, terus berlanjut, seolah tiada henti. Itulah senandung talbiyah. Itulah kidung atau tembang mereka yang sedang berhaji. Yang menunjukkan kecintaan dan rasa rindunya kepada Allah.
Siapa pun yang berhaji hendaklah memahami, mendalami, dan menghayati senandung talbiyah. Sebab, inti senandung itu berisi siapa pun yang datang ke Tanah Suci untuk memenuhi panggilan Allah semata. Talbiyah menjadi kunci keberhasilan dalam penunaian ibadah haji untuk mencapai haji mabrur. Semoga. (Sumber Suara Muhammadiyah No 22/November 2009) Diposkan oleh Moh As Syakir (bangkit.syahid@gmail.com
JAMAAH calon haji dari Indonesia secara bertahap diberangkatkan ke Tanah Suci dari 11 embarkasi untuk menunaikan ibadah haji yang menjadi Rukun Islam yang ke lima. Saudara-saudara kita seiman, yang pada tahun ini berkesempatan menunaikan ibadah haji, pantas bergembira dan berbahagia serta harus bersyukur. Kita ucapkan selamat kepada mereka. Semoga mendapatkan haji mabrur.
Mereka yang dapat berhaji pada tahun ini tentulah bergembira dan berbahagia Karena setelah sabar menunggu selama beberapa tahun, akhirnya yang ditunggu telah datang, yang diharap telah tiba, dan yang didambakan telah menjadi kenyataan. Apalagi, selama beberapa tahun ini berlaku ketentuan siapa yang mendaftarkan untuk berhaji pada tahun ini tidak pasti bisa berangkat pada tahun ini. Tetapi harus bersabar menunggu beberapa tahun lagi hingga datangnya giliran. Jadi, bisa berangkat berhaji pada tahun ini tentulah merupakan kegembiraan dan kebahagiaan tersendiri. Selain itu harus bersyukur, karena pada saat negeri kita sedang dilanda beberapa musibah, misal, gempa bumi yang melanda beberapa kota yang banyak merenggut korban, meruntuhkan gedung-gedung, tempat-tempat ibadah, menghancurkan rumah-rumah penduduk, dan lain-lain, tetapi saudara-saudara kita itu tetap dapat berangkat ke Tanah Suci. Mereka hendaklah dapat membuktikan rasa syukur dengan peduli membantu para penderita korban gempa tersebut, baik sebelum berangkat ke maupun sesudah kembali dari Tanah Suci.
Saya setuju pembatasan jumlah umat Islam di dunia termasuk di dalamnya dari Indonesia setiap tahun yang hendak menunaikan ibadah haji. Prioritaskan kepada mereka yang untuk pertama kali hendak berhaji. Sedangkan kepada mereka yang hendak menunaikan ibadah haji yang ke-2, ke-3, dan seterusnya tetap diberi kesempatan, tetapi harus sabar menunggu setelah lima tahun kemudian. Pembatasan itu justru untuk memberi kenyamanan dan keamanan bagi mereka yang sedang menunaikan ibadah haji. Sebab, betapa pun luasnya Masjidil Haram tempat untuk thawaf dan sa’i, padang Arafah untuk wukuf, dan Mina untuk melontar jumrah (walaupun sudah dibangun bertingkat), namun daya tampungnya tetap terbatas.
Ibadah haji berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya dalam Rukun Islam. Ibadah shalat lima waktu, misalnya, merupakan kewajiban yang bersifat harian. Sedangkan ibadah puasa Ramadlan selama satu bulan adalah kewajiban yang bersifat tahunan. Kedua macam ibadah itu tidak dikaitkan dengan kaya dan miskin, punya dan tidak punya. Tidak demikian halnya dengan ibadah haji.
Ibadah yang satu ini merupakan kewajiban satu kali dalam seumur hidup. Selebihnya, menunaikan ibadah haji yang ke-2, ke-3, dan seterusnya bukan lagi merupakan kewajiban, tetapi keutamaan. Meskipun haji merupakan kewajiban satu kali dalam seumur hidup, namun kewajiban ini masih dikaitkan dengan kesanggupan/kemampuan (Q.s. Ali Imran [3] : 97).
Setiap orang beragama Islam atau mukmin menjadikan menunaikan ibadah haji salah satu cita-cita hidupnya. Kapan suatu waktu dapat berhaji menjadi dambaannya. Untuk dapat mencapainya, maka ia harus bekerja keras, tidak boleh malas. Dengan demikian, selain ia dapat menyukupi keperluan diri dan keluarganya, juga dapat menabung dari waktu ke waktu, sedikit demi sedikit, tetapi lama-kelamaan menjadi bukit. Ketika tabungan dibuka, ternyata telah cukup untuk mendaftar dan membayar Ongkos Naik Haji (ONH) selain biaya yang ditinggalkan bagi keperluan keluarga selama menunaikan ibadah haji. Akhirnya menjadi kenyataan, ia dapat memenuhi panggilan Allah untuk dapat memenuhi rasa rindu kepada-Nya. Tentu ini merupakan nikmat dan rahmat bisa berangkat menjadi tamu-Nya.
Mukminin dari Indonesia berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan Rukun Islam yang ke-lima. Mereka meninggalkan Tanah Air menggunakan pesawat udara melintasi lautan, udara, dan beberapa negara. Begitu jauhnya jarak antara Indonesia dan Arab Saudi, meskipun sudah menggunakan pesawat udara, namun dari embarkasi keberangkatan sampai Jeddah masih memerlukan waktu 11 jam. Barulah setelah sampai Jeddah, mereka yang masuk jamaah haji gelombang pertama terus menuju ke Madinah. Di kota ini diberi waktu selama sembilan hari. Setelah itu kemudian ke Mekkah untuk berhaji. Sedangkan mereka yang masuk gelombang ke dua, dari Jeddah terus langsung ke Makkah. Setelah selesai menunaikan ibadah haji, barulah berikutnya ke Madinah. Kita dapat membayangkan betapa perjalanan berhaji itu cukup melelahkan. Tetapi menggembirakan, membahagiakan, dan memberi pengalaman rohaniyah yang berarti.
Setelah mereka berbusana ihram mulai dari tempat yang telah ditentukan, selama dalam perjalanan, mereka bersenandung. “Labbaiik. Allaahumma labbaiik. Labbaiik laa syariikalaka labbaiik. Innal hamda wanni’mata laka wal mulk. Laa syariikalak” – “Aku datang untuk memenuhi panggilan-Mu. Ya Allah, sungguh, aku datang semata-mata untuk memenuhi panggilan-Mu. Aku datang karena perintah-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, dan aku datang untuk mematuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kekuasaan itu hanyalah bagi dan milik-Mu semata. Tiada sekutu bagi-Mu”. Senandung nyanyian mereka itu beralun, berirama. Kadang terdengar meninggi, merendah, dan kadang datar. Silih berganti, terus berlanjut, seolah tiada henti. Itulah senandung talbiyah. Itulah kidung atau tembang mereka yang sedang berhaji. Yang menunjukkan kecintaan dan rasa rindunya kepada Allah.
Siapa pun yang berhaji hendaklah memahami, mendalami, dan menghayati senandung talbiyah. Sebab, inti senandung itu berisi siapa pun yang datang ke Tanah Suci untuk memenuhi panggilan Allah semata. Talbiyah menjadi kunci keberhasilan dalam penunaian ibadah haji untuk mencapai haji mabrur. Semoga. (Sumber Suara Muhammadiyah No 22/November 2009) Diposkan oleh Moh As Syakir (bangkit.syahid@gmail.com
Pendidikan Berparadigma Profetik
Pendidikan merupakan salah satu aspek dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan bangsa yang memegang peranan penting terkait dengan kualitas kehidupan dan jati diri manusia sebagai khalifah Tuhan. Pendidikan yang baik akan menciptakan tatanan keluarga, masyarakat dan bangsa yang penuh dengan harmoni dan cinta kasih. Pendidikan yang baik juga akan melahirkan generasi yang berilmu, berakhlaq serta mempunyai kemampuan secara mandiri dalam menata masa depannya. Sebaliknya pendidikan yang buruk akan menyebabkan mayarakat menjadi chaos (kacau) dan penuh dengan kebencian. Pendidikan yang buruk akan menghasilkan generasi yang gagap dan tidak mempunyai kemandirian dalam bersikap dan bertindak. Filosof Immanuel Kant mengatakan “manusia adalah hasil dari pendidikan”.
Fenomena pendidikan di Negara kita sekarang ini di satu sisi sudah mengalami banyak kemajuan namun di sisi lain masih banyak problem yang menghantui pendidikan kita. Kemerosotan moralitas anak didik kita yang ditandai oleh banyaknya kasus kenakalan serta perkelaian remaja, anak sekolah yang terjebak dalam pergaulan bebas, pronografi dan narkoba. Semua itu merupakan masalah serius yang memerlukan pemikiran dan pemecahan bagi insan pendidikan yang melibatkan sinergi antara keluarga, pemerintah dan masyarakat.
Sekarang ini sudah banyak teori/konsep pendidikan yang telah dikembangkan dalam rangka untuk memperbaiki serta meningkatkan kualitas pendidikan kita. Mulai dari pendidikan multikultular, pendidikan kritis, dan lain sebagainya. Konsep-konsep tersebut kebanyakan mengadopsi dari Negara-negara maju/Negara-negara barat yang berperadapan industrial dan sekuler sehingga secara praktis belum tentu cocok untuk diaplikasikan di Negara kita karena perbedaan karakter, kultur dan sosiologi masyarakat.
Salah satu konsep pendidikan yang patut kita diskusikan adalah pendidikan berparadigma profetik, yaitu pendidikan yang dilandasi oleh nilai-nilai profetis atau nilai-nilai kewahyuan. Sebagai seorang muslim, kita telah meyakini bahwa wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada nabi-nabi merupakan paket kebenaran yang sudah final. Kebenaran tersebut tidak hanya berisi tentang bagaimana beribadah secara ritual vertical namun juga mengandung pesan-pesan kemanusiaan dan perdamaian yang luhur, singkatnya wahyu yang diturunkan Allah merupakan panduan nilai yang lengkap dalam kehidupan ini. Pendidikan berparadigma profetik tidak hanya menekankan aspek kognitif/intelektual belaka tetapi juga ingin menjadikan manusia menjadi individu-individu yang memiliki kualitas intelektual dan spiritual yang baik.
Ada beberapa prinsip pendidikan berparadigma profetik, antara lain : pertama, pendidikan profetik berlandaskan tauhid, yaitu menjadikan tauhid/keesaan Allah sebagai nafas/spirit dalam segala aktivitas pendidikan. Sudah jelas bagi kita bahwa seluruh wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW mengandung inti pesan ajaran tauhid yaitu mengesakan Allah sebagai pencipta, pengatur dan pemilik kehidupan ini. Nilai-nilai yang terkandung dalam tauhid akan menimbulkan perasaan pembebasan (liberation) sejati pada diri anak didik kita. Melahirkan perasaan kepedulian social kemanusiaan yang tinggi karena tauhid mengandung makna kesatuan penciptaan (Unity of Creation) dan kesatuan kemanusiaan (Unity of Mankind)
Kedua, pendidikan profetik bersifat holistic/menyeluruh. Kegagalan pendidikan yang terjadi sering dikarenakan pendidikan berlangsung dan bersifat parsial. Pendidikan sering hanya di maknai dengan pengajaran yang berisi transfer pengetahuan belaka sehingga akan menghasilkan individu yang cerdas secara kognitif tetapi berperilaku yang menyimpang dari nilai-nilai dan norma agama. Pendidikan berparadigma profetik memandang bahwa manusia adalah makhluk rasional sekaligus makhluk spiritual seperti yang diajarkan dalam Al-Qur’an sehingga pendidikan yang dilaksanakan mempunyai misi mencerdaskan akal dan hati. Sekarang ini dengan adanya pemisahan mata pelajaran, pendidikan agama sering hanya diajarkan secara parsial dan tidak dikaitkan dengan subyek keilmuan yang lain. Bercermin dari sejarah Nabi Muhammad, sepanjang hidupnya Nabi berdakwah dengan mendidik umatnya secara totalitas agar dapat melaksanakan ajaran Tauhid. Nabi mendidik umatnya tanpa kenal lelah sepanjang hidupnya dengan sekolah tanpa dinding (school without wall) sehingga dalam waktu kurang lebih 23 tahun Nabi berhasil merubah masyarakat yang jahiliyah (Ignorance Soceity) menjadi masyarakat yang beradab (Civilited Soceity) .
Ketiga, pendidikan profetik menjadikan Al-Qur’an sebagai paradigma Ilmu Pengetahuan. Al-Qur’an adalah wahyu Tuhan yang paripurna yang menjadi pelengkap ajaran-ajaran nabi-nabi terdahulu yang merupakan panduan hidup bagi setiap muslim di muka bumi ini. Al-quran memberikan status yang tinggi bagi ilmu pengetahuan, disebutkan bahwa Allah mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu (QS,58:11), Penciptaan alam semesta adalah tanda-tanda bagi orang yang berakal/ulul albab (QS,3:190). Ilmu pengetahuan yang kita pelajari saat ini khususnya ilmu-ilmu alam sebagian besar lahir dari peradaban Barat yang secular sehingga cenderung berpandangan materialistic dan menolak wahyu sebagai sumber informasi dalam dunia keilmuan. Dengan menjadikan Alquran sebagai paradigma maka setiap aktivitas pengajaran ilmu pengetahuan selalu mengkaitkan subject matter keilmuan tersebut dengan ajaran-ajaran yang tertuang dalam Alquran. Lebih lanjut, ayat-ayat Al-Quran dijadikan inspirasi bagi pengembangan keilmuan anak didik kita. Dengan demikian maka pendidikan kita akan terhindar dari sikap sekularisme pendidikan yang memisahkan ilmu dengan Pencipta alam.
Penutup
Tulisan ini tidaklah bermaksud menjelaskan bagaimana implementasi pendidikan berparadigma profetik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat, tetapi terbatas pada bagaimana menjelaskan beberapa prinsip pendidikan yang menjadikan nilai-nilai kewahyuan sebagai landasan berpijak. Diharapkan dengan menjadikan nilai-nilai kewahyuan sebagai paradigma dalam pendidikan dapat secara perlahan-lahan mengarahkan pendidikan kita untuk membentuk generasi yang utuh yaitu generasi yang cerdas secara spiritual maupun intelektual. Wallahu ’alam bi shawab (moh as syakir hasbullah, bangkit.syahid@gmail.com)
*) Penulis Arif Sulistiyawan, Praktisi Pendidikan di Bojonegoro Jatim
Fenomena pendidikan di Negara kita sekarang ini di satu sisi sudah mengalami banyak kemajuan namun di sisi lain masih banyak problem yang menghantui pendidikan kita. Kemerosotan moralitas anak didik kita yang ditandai oleh banyaknya kasus kenakalan serta perkelaian remaja, anak sekolah yang terjebak dalam pergaulan bebas, pronografi dan narkoba. Semua itu merupakan masalah serius yang memerlukan pemikiran dan pemecahan bagi insan pendidikan yang melibatkan sinergi antara keluarga, pemerintah dan masyarakat.
Sekarang ini sudah banyak teori/konsep pendidikan yang telah dikembangkan dalam rangka untuk memperbaiki serta meningkatkan kualitas pendidikan kita. Mulai dari pendidikan multikultular, pendidikan kritis, dan lain sebagainya. Konsep-konsep tersebut kebanyakan mengadopsi dari Negara-negara maju/Negara-negara barat yang berperadapan industrial dan sekuler sehingga secara praktis belum tentu cocok untuk diaplikasikan di Negara kita karena perbedaan karakter, kultur dan sosiologi masyarakat.
Salah satu konsep pendidikan yang patut kita diskusikan adalah pendidikan berparadigma profetik, yaitu pendidikan yang dilandasi oleh nilai-nilai profetis atau nilai-nilai kewahyuan. Sebagai seorang muslim, kita telah meyakini bahwa wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada nabi-nabi merupakan paket kebenaran yang sudah final. Kebenaran tersebut tidak hanya berisi tentang bagaimana beribadah secara ritual vertical namun juga mengandung pesan-pesan kemanusiaan dan perdamaian yang luhur, singkatnya wahyu yang diturunkan Allah merupakan panduan nilai yang lengkap dalam kehidupan ini. Pendidikan berparadigma profetik tidak hanya menekankan aspek kognitif/intelektual belaka tetapi juga ingin menjadikan manusia menjadi individu-individu yang memiliki kualitas intelektual dan spiritual yang baik.
Ada beberapa prinsip pendidikan berparadigma profetik, antara lain : pertama, pendidikan profetik berlandaskan tauhid, yaitu menjadikan tauhid/keesaan Allah sebagai nafas/spirit dalam segala aktivitas pendidikan. Sudah jelas bagi kita bahwa seluruh wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW mengandung inti pesan ajaran tauhid yaitu mengesakan Allah sebagai pencipta, pengatur dan pemilik kehidupan ini. Nilai-nilai yang terkandung dalam tauhid akan menimbulkan perasaan pembebasan (liberation) sejati pada diri anak didik kita. Melahirkan perasaan kepedulian social kemanusiaan yang tinggi karena tauhid mengandung makna kesatuan penciptaan (Unity of Creation) dan kesatuan kemanusiaan (Unity of Mankind)
Kedua, pendidikan profetik bersifat holistic/menyeluruh. Kegagalan pendidikan yang terjadi sering dikarenakan pendidikan berlangsung dan bersifat parsial. Pendidikan sering hanya di maknai dengan pengajaran yang berisi transfer pengetahuan belaka sehingga akan menghasilkan individu yang cerdas secara kognitif tetapi berperilaku yang menyimpang dari nilai-nilai dan norma agama. Pendidikan berparadigma profetik memandang bahwa manusia adalah makhluk rasional sekaligus makhluk spiritual seperti yang diajarkan dalam Al-Qur’an sehingga pendidikan yang dilaksanakan mempunyai misi mencerdaskan akal dan hati. Sekarang ini dengan adanya pemisahan mata pelajaran, pendidikan agama sering hanya diajarkan secara parsial dan tidak dikaitkan dengan subyek keilmuan yang lain. Bercermin dari sejarah Nabi Muhammad, sepanjang hidupnya Nabi berdakwah dengan mendidik umatnya secara totalitas agar dapat melaksanakan ajaran Tauhid. Nabi mendidik umatnya tanpa kenal lelah sepanjang hidupnya dengan sekolah tanpa dinding (school without wall) sehingga dalam waktu kurang lebih 23 tahun Nabi berhasil merubah masyarakat yang jahiliyah (Ignorance Soceity) menjadi masyarakat yang beradab (Civilited Soceity) .
Ketiga, pendidikan profetik menjadikan Al-Qur’an sebagai paradigma Ilmu Pengetahuan. Al-Qur’an adalah wahyu Tuhan yang paripurna yang menjadi pelengkap ajaran-ajaran nabi-nabi terdahulu yang merupakan panduan hidup bagi setiap muslim di muka bumi ini. Al-quran memberikan status yang tinggi bagi ilmu pengetahuan, disebutkan bahwa Allah mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu (QS,58:11), Penciptaan alam semesta adalah tanda-tanda bagi orang yang berakal/ulul albab (QS,3:190). Ilmu pengetahuan yang kita pelajari saat ini khususnya ilmu-ilmu alam sebagian besar lahir dari peradaban Barat yang secular sehingga cenderung berpandangan materialistic dan menolak wahyu sebagai sumber informasi dalam dunia keilmuan. Dengan menjadikan Alquran sebagai paradigma maka setiap aktivitas pengajaran ilmu pengetahuan selalu mengkaitkan subject matter keilmuan tersebut dengan ajaran-ajaran yang tertuang dalam Alquran. Lebih lanjut, ayat-ayat Al-Quran dijadikan inspirasi bagi pengembangan keilmuan anak didik kita. Dengan demikian maka pendidikan kita akan terhindar dari sikap sekularisme pendidikan yang memisahkan ilmu dengan Pencipta alam.
Penutup
Tulisan ini tidaklah bermaksud menjelaskan bagaimana implementasi pendidikan berparadigma profetik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat, tetapi terbatas pada bagaimana menjelaskan beberapa prinsip pendidikan yang menjadikan nilai-nilai kewahyuan sebagai landasan berpijak. Diharapkan dengan menjadikan nilai-nilai kewahyuan sebagai paradigma dalam pendidikan dapat secara perlahan-lahan mengarahkan pendidikan kita untuk membentuk generasi yang utuh yaitu generasi yang cerdas secara spiritual maupun intelektual. Wallahu ’alam bi shawab (moh as syakir hasbullah, bangkit.syahid@gmail.com)
*) Penulis Arif Sulistiyawan, Praktisi Pendidikan di Bojonegoro Jatim
Prof Komarudin Hidayat : Mengapa Harus Bersyahadat
Ibarat bangunan rumah, syahadat itu bagaikan fondasinya. Ketika melihat rumah bagus dan besar, orang kurang peduli pada fondasi, justru yang diperhatikan adalah bangunan rumah serta berbagai ornamen yang ada. Atau mungkin mobil-mobil mewah yang parkir di halamannya.
Ibarat fondasi bangunan, syahadat yang merupakan rukun Islam pertama memang tidak kelihatan, namun fungsinya sangat vital, sebagai penyangga seluruh bangunan di atasnya.
Dalam ajaran Islam, sebagian besar ajaran dan pelaksanaan agama memang bersifat sangat pribadi. Secara seremonial, yang bisa dilihat oleh orang lain adalah shalat jum’at dan ibadah haji. Itupun ketika menyangkut niat dan tingkat kekhusyukannya, orang lain tidak tahu. Jadi betul-betul bersifat pribadi, yang tahu hanya yang bersangkutan dan Allah. Kita tidak tahu secara pasti, adakah seseorang benar-benar melakukan shalat, puasa, zakat dan haji. Dengan demikian, kemerdekaan atau kebebasan beragama sudah built-in dalam ajaran Islam.
Tanpa adanya kebebasan maka konsep reward and punishment (pahala dan siksa) sulit diterapkan. Seseorang dikatakan berbuat baik ketika ada pilihan dan peluang untuk berbuat jahat, dan sebaliknya. Dengan demikian, apakah seseorang mau beriman dan beramal saleh, itu sebanding dengan kesempatan untuk memilih menjadi kufur dan berbuat munkar.
Memaknai Syahadat
Secara harfiah, syahadat dalam Islam berbunyi: Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Kalimat yang tampak sederhana ini jika dikaji konteks kemunculannya sungguh merupakan peristiwa sosial-psikologis yang amat dahsyat. Masyarakat Arab waktu menjadi goncang dan terbelah gara-gara deklarasi syahadat ini. Bahkan Muhammad yang kala itu dikenal sebagai orang yang paling dipercaya dan dicintai semua masyarakat, begitu mandakwahkan kalimat ini tiba-tiba jiwanya terancam, dikejar-kejar hendak dibunuh yang akhirnya harus pindah ke Madinah.
Bersyahadat berarti melakukan perjanjian dan kontrak hidup dengan Allah, menyadari sepenuhnya bahwa kita diciptakan oleh Allah, dimatikan oleh Allah, dan hidup ini hanya untuk Allah, mengikuti ajaran-ajaran Allah. Deklarasi ini sekaligus memutuskan semua bentuk penghambaan selain pada Allah. Dengan demikian syahadat juga berarti sebuah liberasi dan emansipasi atau pembebasan diri dari semua bentuk ketergantungan kecuali pada Allah.
Implikasi syahadat ini ketika awal mula diajarkan oleh Rasul Muhammad telah membuat para bangsawan Arab marah, tersinggung dan merasa dihinakan. Sebaliknya para budak dan orang-orang tertindas merasa memperoleh pencerahan hidup dan optimisme, bahwa semua manusia adalah sama. Yang membedakan adalah kualitas iman dan budinya, bukan karena pangkat dan kekayaannya. Faham egalitarianisme dan humanisme sejati justeru telah diajarkan oleh Rasul Muhammad sejak abad ke tujuh, bahwa hidup adalah suci, dan setiap jiwa orang harus dihormati. Dalam setiap individu terdapat nilai kemanusiaan universal, sehingga Al-Qur’an menyatakan, barangsiapa membunuh seseorang tanpa alasan yang dibenarkan maka nilai dosanya seakan telah membunuh seluruh manusia. Begitupun yang menolong jiwa seseorang, seakan dia telah menolong seluruh manusia.
Muncul pertanyaan, kapan syahadat yang menyatakan keislaman kita? Mengapa seorang muslim wajib mengikrarkan syahadat setidaknya sembilan kali sehari, dan memohon petunjuk jalan yang lurus sedikitnya tujuh belas kali sehari? Apakah ini berarti kita masih ragu akan keislaman kita? Sedikitnya tiga jawaban dapat dikemukakan terhadap pertanyaan ini.
Pertama, demikianlah perintah dan ajaran Islam, bahwa setiap shalat kita diwajibkan mengucapkan syahadat. Tentu perintah ini mengandung hikmah yang besar, mengapa syahadat harus diulang-ulang, tidak cukup sekali saja sebagaimana perintah wajib haji ataupun akad nikah dalam perkawinan.
Kedua, mengingat hati, pikiran, dan tindakan seseorang tidak selalu stabil, tidak selalu berada di jalan yang lurus, maka setiap hari perlu dilakukan pembaruan dan penyegaran komitmen tauhid berupa ikrar syahadat. Rasulullah memperingatkan, hati-hati dengan dirimu, siapa tahu pagi hari penuh dengan semangat keimanan sedang sorenya terpeleset menjadi kafir (sekalipun dalam KTP tetap tertulis sebagai orang muslim). Oleh karena itu shalat dan syahadat yang dilakukan setiap hari merupakan ikatan dan jalan pertobatan bagi seorang mukmin.
Ketiga, sebuah syahadat verbal berupa ucapan harus selalu diisi terus-menerus dengan syahadat atau kesaksian yang didukung dengan ilmu pengetahuan dan pengalaman keberagamaan. Coba bandingkan, kualitas syahadat yang diikrarkan para peserta training ESQ setelah memperoleh pengetahuan tentang kebesaran Allah dengan kualitas syahadat sebelum training. Pasti ada perbedaan kualitas. Atau kualitas syahadat kita semasa SD dan setelah usia lanjut, tentu bobotnya tidak sama. Ini berarti setiap hari kita wajib meningkatkan kualitas syahadat kita dengan cara menambah pengetahuan tentang Allah dan asma-Nya serta karya-karya agung-Nya.
Begitupun permohonan dalam Al-Fatihah: Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus. Sebagaimana syahadat, ini juga merupakan metode dan komitmen agar kita selalu berjalan di atas jalan yang lurus. Bahkan sekaligus menunjukkan sikap rendah hati di hadapan Allah. Dalam berbagai pertemuan lintas agama, qua substansi semua tokoh agama sulit menolak kebenaran Al-Fatihah karena isinya sangat inklusif. Jika Al-Fatihah disebut induk Al-Qur’an, maka inklusifitas isi Al-Fatihah sejalan dengan spirit training ESQ yang juga inklusif dan rendah hati serta haus akan kebenaran.
Perintah bersyahadat dan mohon petunjuk ke jalan lurus setiap hari bukannya kita ragu akan kebenaran agama serta iman kita, melainkan sebuah metode pembelajaran diri agar kita selalu rendah hati dan membuka diri terhadap kritik, dan kritik yang paling penting datang dari diri sendiri. Kalau seseorang membiasakan melakukan kritik diri dengan tulus dan serius, maka ketika ada kritik dari orang lain, ia tidak akan marah, malah berterima kasih.
Sumber ESQ Magazine.com, Senin 14 September 2009
Ibarat fondasi bangunan, syahadat yang merupakan rukun Islam pertama memang tidak kelihatan, namun fungsinya sangat vital, sebagai penyangga seluruh bangunan di atasnya.
Dalam ajaran Islam, sebagian besar ajaran dan pelaksanaan agama memang bersifat sangat pribadi. Secara seremonial, yang bisa dilihat oleh orang lain adalah shalat jum’at dan ibadah haji. Itupun ketika menyangkut niat dan tingkat kekhusyukannya, orang lain tidak tahu. Jadi betul-betul bersifat pribadi, yang tahu hanya yang bersangkutan dan Allah. Kita tidak tahu secara pasti, adakah seseorang benar-benar melakukan shalat, puasa, zakat dan haji. Dengan demikian, kemerdekaan atau kebebasan beragama sudah built-in dalam ajaran Islam.
Tanpa adanya kebebasan maka konsep reward and punishment (pahala dan siksa) sulit diterapkan. Seseorang dikatakan berbuat baik ketika ada pilihan dan peluang untuk berbuat jahat, dan sebaliknya. Dengan demikian, apakah seseorang mau beriman dan beramal saleh, itu sebanding dengan kesempatan untuk memilih menjadi kufur dan berbuat munkar.
Memaknai Syahadat
Secara harfiah, syahadat dalam Islam berbunyi: Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Kalimat yang tampak sederhana ini jika dikaji konteks kemunculannya sungguh merupakan peristiwa sosial-psikologis yang amat dahsyat. Masyarakat Arab waktu menjadi goncang dan terbelah gara-gara deklarasi syahadat ini. Bahkan Muhammad yang kala itu dikenal sebagai orang yang paling dipercaya dan dicintai semua masyarakat, begitu mandakwahkan kalimat ini tiba-tiba jiwanya terancam, dikejar-kejar hendak dibunuh yang akhirnya harus pindah ke Madinah.
Bersyahadat berarti melakukan perjanjian dan kontrak hidup dengan Allah, menyadari sepenuhnya bahwa kita diciptakan oleh Allah, dimatikan oleh Allah, dan hidup ini hanya untuk Allah, mengikuti ajaran-ajaran Allah. Deklarasi ini sekaligus memutuskan semua bentuk penghambaan selain pada Allah. Dengan demikian syahadat juga berarti sebuah liberasi dan emansipasi atau pembebasan diri dari semua bentuk ketergantungan kecuali pada Allah.
Implikasi syahadat ini ketika awal mula diajarkan oleh Rasul Muhammad telah membuat para bangsawan Arab marah, tersinggung dan merasa dihinakan. Sebaliknya para budak dan orang-orang tertindas merasa memperoleh pencerahan hidup dan optimisme, bahwa semua manusia adalah sama. Yang membedakan adalah kualitas iman dan budinya, bukan karena pangkat dan kekayaannya. Faham egalitarianisme dan humanisme sejati justeru telah diajarkan oleh Rasul Muhammad sejak abad ke tujuh, bahwa hidup adalah suci, dan setiap jiwa orang harus dihormati. Dalam setiap individu terdapat nilai kemanusiaan universal, sehingga Al-Qur’an menyatakan, barangsiapa membunuh seseorang tanpa alasan yang dibenarkan maka nilai dosanya seakan telah membunuh seluruh manusia. Begitupun yang menolong jiwa seseorang, seakan dia telah menolong seluruh manusia.
Muncul pertanyaan, kapan syahadat yang menyatakan keislaman kita? Mengapa seorang muslim wajib mengikrarkan syahadat setidaknya sembilan kali sehari, dan memohon petunjuk jalan yang lurus sedikitnya tujuh belas kali sehari? Apakah ini berarti kita masih ragu akan keislaman kita? Sedikitnya tiga jawaban dapat dikemukakan terhadap pertanyaan ini.
Pertama, demikianlah perintah dan ajaran Islam, bahwa setiap shalat kita diwajibkan mengucapkan syahadat. Tentu perintah ini mengandung hikmah yang besar, mengapa syahadat harus diulang-ulang, tidak cukup sekali saja sebagaimana perintah wajib haji ataupun akad nikah dalam perkawinan.
Kedua, mengingat hati, pikiran, dan tindakan seseorang tidak selalu stabil, tidak selalu berada di jalan yang lurus, maka setiap hari perlu dilakukan pembaruan dan penyegaran komitmen tauhid berupa ikrar syahadat. Rasulullah memperingatkan, hati-hati dengan dirimu, siapa tahu pagi hari penuh dengan semangat keimanan sedang sorenya terpeleset menjadi kafir (sekalipun dalam KTP tetap tertulis sebagai orang muslim). Oleh karena itu shalat dan syahadat yang dilakukan setiap hari merupakan ikatan dan jalan pertobatan bagi seorang mukmin.
Ketiga, sebuah syahadat verbal berupa ucapan harus selalu diisi terus-menerus dengan syahadat atau kesaksian yang didukung dengan ilmu pengetahuan dan pengalaman keberagamaan. Coba bandingkan, kualitas syahadat yang diikrarkan para peserta training ESQ setelah memperoleh pengetahuan tentang kebesaran Allah dengan kualitas syahadat sebelum training. Pasti ada perbedaan kualitas. Atau kualitas syahadat kita semasa SD dan setelah usia lanjut, tentu bobotnya tidak sama. Ini berarti setiap hari kita wajib meningkatkan kualitas syahadat kita dengan cara menambah pengetahuan tentang Allah dan asma-Nya serta karya-karya agung-Nya.
Begitupun permohonan dalam Al-Fatihah: Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus. Sebagaimana syahadat, ini juga merupakan metode dan komitmen agar kita selalu berjalan di atas jalan yang lurus. Bahkan sekaligus menunjukkan sikap rendah hati di hadapan Allah. Dalam berbagai pertemuan lintas agama, qua substansi semua tokoh agama sulit menolak kebenaran Al-Fatihah karena isinya sangat inklusif. Jika Al-Fatihah disebut induk Al-Qur’an, maka inklusifitas isi Al-Fatihah sejalan dengan spirit training ESQ yang juga inklusif dan rendah hati serta haus akan kebenaran.
Perintah bersyahadat dan mohon petunjuk ke jalan lurus setiap hari bukannya kita ragu akan kebenaran agama serta iman kita, melainkan sebuah metode pembelajaran diri agar kita selalu rendah hati dan membuka diri terhadap kritik, dan kritik yang paling penting datang dari diri sendiri. Kalau seseorang membiasakan melakukan kritik diri dengan tulus dan serius, maka ketika ada kritik dari orang lain, ia tidak akan marah, malah berterima kasih.
Sumber ESQ Magazine.com, Senin 14 September 2009
Kebiasaan Berpikir negatif Vs Kebiasaan Berpikir Positif
Thursday, November 26, 2009, 6:52 | 0 Komentar .
Berpikir Negatif VS Berpikir Positif
“Manusia mungkin berbuat salah tetapi yang tidak dibenarkan adalah mempertahankan sesuatu yang negatif dan mengulanginya hingga menjadi kebiasaan”
Apakah Anda mengenal orang yang selalu berpikir negatif? Apakah Anda mengenal orang yang selalu melihat sisi negative segala sesuatu? Apakah Anda mengenal orang yang menjadikan rokok, minuman keras, atau narkoba sebagai pelarian dari masalah yang dihadapi? Berpikir negatif adalah penyakit yang sangat berbahaya. Ia candu seperti narkoba dan minuman keras. Waspadalah dengan pikiran negatif yang bila berkelanjutan akan menghasilkan perilaku negatif. Diantara ciri-ciri orang yang berkepribadian negatif :
1. Keyakinan dan bayangan negatif ; Kepribadian yang negatif lebih sering meyakini kegagalan daripada keberhasilan. Bayangan kegagalan selalu ada dalam pikirannya.
2. Menolak perubahan ; Karena keyakinan dan bayangan negatif, seseorang menolak perubahan apa pun yang mengeluarkannya dari zona nyaman dan aman.
3. Tidak berperan aktif menyelesaikan masalah
4. Selalu mengeluh, mencela, dan melihat sisi negatif dari segala sesuatu
5. Selalu merasa frustasi, sendiri dan gagal
6. Hasil kerja dan capaian individunya menjadi lemah
7. Senang menyendiri dan tidak mampu bersosialisasi hingga tidak punya sahabat
8. Sangat mungkin terserang penyakit jiwa
Ini beberapa contoh kepribadian negatif. Menghindarlah dari berpikir negatif karena pikiran itu akan menumpuk dan menyebar hingga menjadi kebiasaan yang menghalangi anda mencapai tujuan dan mendatangkan masalah yang tidak berkesudahan. Yang paling penting untuk disadari adalah pikira negatif menguatkan ego rendah dan menjauhkan kita dari Allah.
Sobat, justru pikiran yang harus kita kembangkan adalah selalu berpikir positif. Ada masalah atau tidak, kita selalu bersyukur pada Allah, kita berpikir mencari solusi dari segala kemungkinan hingga pikiran itu menjadi kebiasaan hidup kita. Orang yang memiliki kepribadian semacam ini akan menjalani hidup dengan damai,tenang dan bahagia.
Mari kita menelusuri sifat-sifat kepribadian positif dan bagaimana kita bisa menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada sepuluh sifat utama yang menjadi ciri khas kepribadian positif. Sifat-sifat itu akan membantu kita mewujudkan cita-cita, serta memberi kebahagiaan, ketenangan, dan ketentraman jiwa.
1. Beriman, memohon bantuan, dan tawakkal kepada Allah.
2. Kepribadian yang sukses memiliki ciri jujur, amanah, menyukai kebaikan, murah hati, bergantung pada Allah, dan selalu meneladani akhlak Rasulullah Saw. Dan orang-orang sholeh.
3. Memiliki cara pandang yang jelas.
4. Pribadi positif tahu betul kekuatan hukum keyakinan dan proyeksi positif.
5. Selalu mencari jalan keluar dari berbagai masalah.
6. Belajar dari masalah dan kesulitan
7. Tidak membiarkan masalah dan kesulitan mempengaruhi kehidupannya.
8. Percaya diri, menyukai perubahan, dan berani menghadapi tantangan.
9. Hidup dengan cita-cita, perjuangan, dan kesabaran.
10. Pandai bergaul dan suka membantu orang lain.
Sobat, sebagai penutup tulisan singkat ini. Ada kata-kata menarik yang perlu kita renungkan dari Dr. Ibrahim Elfkiy : ” Hidup yang kita jalani saat ini adalah pancaran pikiran, keputusan, dan pilihan kita. Jika kita rela menerima tantangan, berarti kita telah merintis perubahan, kemajuan dan perkembangan.”
Semoga kita bisa menjadi hamba-hamba-Nya yang senantiasa bersyukur dan bertawakkal kepada Allah SWT. Rasulullah Saw. Bersabda, ”Jika kalian bertawakkal kepada Allah dengan benar, niscaya Dia akan memberi rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki pada burung.”
Ada syair yang layak kita perhatikan:
Bertakwalah kepada Allah jika engkau berpikir
Dia akan memberimu rezeki yang tak pernah engkau pikir
Bagaimana mungkin engkau takut jatuh miskin
Sedangkan Allah Maha Mengatur Rezeki
Dialah yang memberi rezeki
Pada burung dan ikan di lautan.
( Spiritual Motivator – N.Faqih Syarif H , Penulis buku Al Quwwah ar ruhiyah, Kekuatan Spirit Tanpa Batas, www.fikrulmustanir.blogspot.com , www.cahayaislam.com )
Thursday, November 26, 2009, 6:52 | 0 Komentar .
Berpikir Negatif VS Berpikir Positif
“Manusia mungkin berbuat salah tetapi yang tidak dibenarkan adalah mempertahankan sesuatu yang negatif dan mengulanginya hingga menjadi kebiasaan”
Apakah Anda mengenal orang yang selalu berpikir negatif? Apakah Anda mengenal orang yang selalu melihat sisi negative segala sesuatu? Apakah Anda mengenal orang yang menjadikan rokok, minuman keras, atau narkoba sebagai pelarian dari masalah yang dihadapi? Berpikir negatif adalah penyakit yang sangat berbahaya. Ia candu seperti narkoba dan minuman keras. Waspadalah dengan pikiran negatif yang bila berkelanjutan akan menghasilkan perilaku negatif. Diantara ciri-ciri orang yang berkepribadian negatif :
1. Keyakinan dan bayangan negatif ; Kepribadian yang negatif lebih sering meyakini kegagalan daripada keberhasilan. Bayangan kegagalan selalu ada dalam pikirannya.
2. Menolak perubahan ; Karena keyakinan dan bayangan negatif, seseorang menolak perubahan apa pun yang mengeluarkannya dari zona nyaman dan aman.
3. Tidak berperan aktif menyelesaikan masalah
4. Selalu mengeluh, mencela, dan melihat sisi negatif dari segala sesuatu
5. Selalu merasa frustasi, sendiri dan gagal
6. Hasil kerja dan capaian individunya menjadi lemah
7. Senang menyendiri dan tidak mampu bersosialisasi hingga tidak punya sahabat
8. Sangat mungkin terserang penyakit jiwa
Ini beberapa contoh kepribadian negatif. Menghindarlah dari berpikir negatif karena pikiran itu akan menumpuk dan menyebar hingga menjadi kebiasaan yang menghalangi anda mencapai tujuan dan mendatangkan masalah yang tidak berkesudahan. Yang paling penting untuk disadari adalah pikira negatif menguatkan ego rendah dan menjauhkan kita dari Allah.
Sobat, justru pikiran yang harus kita kembangkan adalah selalu berpikir positif. Ada masalah atau tidak, kita selalu bersyukur pada Allah, kita berpikir mencari solusi dari segala kemungkinan hingga pikiran itu menjadi kebiasaan hidup kita. Orang yang memiliki kepribadian semacam ini akan menjalani hidup dengan damai,tenang dan bahagia.
Mari kita menelusuri sifat-sifat kepribadian positif dan bagaimana kita bisa menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada sepuluh sifat utama yang menjadi ciri khas kepribadian positif. Sifat-sifat itu akan membantu kita mewujudkan cita-cita, serta memberi kebahagiaan, ketenangan, dan ketentraman jiwa.
1. Beriman, memohon bantuan, dan tawakkal kepada Allah.
2. Kepribadian yang sukses memiliki ciri jujur, amanah, menyukai kebaikan, murah hati, bergantung pada Allah, dan selalu meneladani akhlak Rasulullah Saw. Dan orang-orang sholeh.
3. Memiliki cara pandang yang jelas.
4. Pribadi positif tahu betul kekuatan hukum keyakinan dan proyeksi positif.
5. Selalu mencari jalan keluar dari berbagai masalah.
6. Belajar dari masalah dan kesulitan
7. Tidak membiarkan masalah dan kesulitan mempengaruhi kehidupannya.
8. Percaya diri, menyukai perubahan, dan berani menghadapi tantangan.
9. Hidup dengan cita-cita, perjuangan, dan kesabaran.
10. Pandai bergaul dan suka membantu orang lain.
Sobat, sebagai penutup tulisan singkat ini. Ada kata-kata menarik yang perlu kita renungkan dari Dr. Ibrahim Elfkiy : ” Hidup yang kita jalani saat ini adalah pancaran pikiran, keputusan, dan pilihan kita. Jika kita rela menerima tantangan, berarti kita telah merintis perubahan, kemajuan dan perkembangan.”
Semoga kita bisa menjadi hamba-hamba-Nya yang senantiasa bersyukur dan bertawakkal kepada Allah SWT. Rasulullah Saw. Bersabda, ”Jika kalian bertawakkal kepada Allah dengan benar, niscaya Dia akan memberi rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki pada burung.”
Ada syair yang layak kita perhatikan:
Bertakwalah kepada Allah jika engkau berpikir
Dia akan memberimu rezeki yang tak pernah engkau pikir
Bagaimana mungkin engkau takut jatuh miskin
Sedangkan Allah Maha Mengatur Rezeki
Dialah yang memberi rezeki
Pada burung dan ikan di lautan.
( Spiritual Motivator – N.Faqih Syarif H , Penulis buku Al Quwwah ar ruhiyah, Kekuatan Spirit Tanpa Batas, www.fikrulmustanir.blogspot.com , www.cahayaislam.com )
Langganan:
Postingan (Atom)