Senin, 01 Maret 2010

Pendidikan Berparadigma Profetik

Pendidikan merupakan salah satu aspek dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan bangsa yang memegang peranan penting terkait dengan kualitas kehidupan dan jati diri manusia sebagai khalifah Tuhan. Pendidikan yang baik akan menciptakan tatanan keluarga, masyarakat dan bangsa yang penuh dengan harmoni dan cinta kasih. Pendidikan yang baik juga akan melahirkan generasi yang berilmu, berakhlaq serta mempunyai kemampuan secara mandiri dalam menata masa depannya. Sebaliknya pendidikan yang buruk akan menyebabkan mayarakat menjadi chaos (kacau) dan penuh dengan kebencian. Pendidikan yang buruk akan menghasilkan generasi yang gagap dan tidak mempunyai kemandirian dalam bersikap dan bertindak. Filosof Immanuel Kant mengatakan “manusia adalah hasil dari pendidikan”.
Fenomena pendidikan di Negara kita sekarang ini di satu sisi sudah mengalami banyak kemajuan namun di sisi lain masih banyak problem yang menghantui pendidikan kita. Kemerosotan moralitas anak didik kita yang ditandai oleh banyaknya kasus kenakalan serta perkelaian remaja, anak sekolah yang terjebak dalam pergaulan bebas, pronografi dan narkoba. Semua itu merupakan masalah serius yang memerlukan pemikiran dan pemecahan bagi insan pendidikan yang melibatkan sinergi antara keluarga, pemerintah dan masyarakat.
Sekarang ini sudah banyak teori/konsep pendidikan yang telah dikembangkan dalam rangka untuk memperbaiki serta meningkatkan kualitas pendidikan kita. Mulai dari pendidikan multikultular, pendidikan kritis, dan lain sebagainya. Konsep-konsep tersebut kebanyakan mengadopsi dari Negara-negara maju/Negara-negara barat yang berperadapan industrial dan sekuler sehingga secara praktis belum tentu cocok untuk diaplikasikan di Negara kita karena perbedaan karakter, kultur dan sosiologi masyarakat.
Salah satu konsep pendidikan yang patut kita diskusikan adalah pendidikan berparadigma profetik, yaitu pendidikan yang dilandasi oleh nilai-nilai profetis atau nilai-nilai kewahyuan. Sebagai seorang muslim, kita telah meyakini bahwa wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada nabi-nabi merupakan paket kebenaran yang sudah final. Kebenaran tersebut tidak hanya berisi tentang bagaimana beribadah secara ritual vertical namun juga mengandung pesan-pesan kemanusiaan dan perdamaian yang luhur, singkatnya wahyu yang diturunkan Allah merupakan panduan nilai yang lengkap dalam kehidupan ini. Pendidikan berparadigma profetik tidak hanya menekankan aspek kognitif/intelektual belaka tetapi juga ingin menjadikan manusia menjadi individu-individu yang memiliki kualitas intelektual dan spiritual yang baik.
Ada beberapa prinsip pendidikan berparadigma profetik, antara lain : pertama, pendidikan profetik berlandaskan tauhid, yaitu menjadikan tauhid/keesaan Allah sebagai nafas/spirit dalam segala aktivitas pendidikan. Sudah jelas bagi kita bahwa seluruh wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW mengandung inti pesan ajaran tauhid yaitu mengesakan Allah sebagai pencipta, pengatur dan pemilik kehidupan ini. Nilai-nilai yang terkandung dalam tauhid akan menimbulkan perasaan pembebasan (liberation) sejati pada diri anak didik kita. Melahirkan perasaan kepedulian social kemanusiaan yang tinggi karena tauhid mengandung makna kesatuan penciptaan (Unity of Creation) dan kesatuan kemanusiaan (Unity of Mankind)
Kedua, pendidikan profetik bersifat holistic/menyeluruh. Kegagalan pendidikan yang terjadi sering dikarenakan pendidikan berlangsung dan bersifat parsial. Pendidikan sering hanya di maknai dengan pengajaran yang berisi transfer pengetahuan belaka sehingga akan menghasilkan individu yang cerdas secara kognitif tetapi berperilaku yang menyimpang dari nilai-nilai dan norma agama. Pendidikan berparadigma profetik memandang bahwa manusia adalah makhluk rasional sekaligus makhluk spiritual seperti yang diajarkan dalam Al-Qur’an sehingga pendidikan yang dilaksanakan mempunyai misi mencerdaskan akal dan hati. Sekarang ini dengan adanya pemisahan mata pelajaran, pendidikan agama sering hanya diajarkan secara parsial dan tidak dikaitkan dengan subyek keilmuan yang lain. Bercermin dari sejarah Nabi Muhammad, sepanjang hidupnya Nabi berdakwah dengan mendidik umatnya secara totalitas agar dapat melaksanakan ajaran Tauhid. Nabi mendidik umatnya tanpa kenal lelah sepanjang hidupnya dengan sekolah tanpa dinding (school without wall) sehingga dalam waktu kurang lebih 23 tahun Nabi berhasil merubah masyarakat yang jahiliyah (Ignorance Soceity) menjadi masyarakat yang beradab (Civilited Soceity) .
Ketiga, pendidikan profetik menjadikan Al-Qur’an sebagai paradigma Ilmu Pengetahuan. Al-Qur’an adalah wahyu Tuhan yang paripurna yang menjadi pelengkap ajaran-ajaran nabi-nabi terdahulu yang merupakan panduan hidup bagi setiap muslim di muka bumi ini. Al-quran memberikan status yang tinggi bagi ilmu pengetahuan, disebutkan bahwa Allah mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu (QS,58:11), Penciptaan alam semesta adalah tanda-tanda bagi orang yang berakal/ulul albab (QS,3:190). Ilmu pengetahuan yang kita pelajari saat ini khususnya ilmu-ilmu alam sebagian besar lahir dari peradaban Barat yang secular sehingga cenderung berpandangan materialistic dan menolak wahyu sebagai sumber informasi dalam dunia keilmuan. Dengan menjadikan Alquran sebagai paradigma maka setiap aktivitas pengajaran ilmu pengetahuan selalu mengkaitkan subject matter keilmuan tersebut dengan ajaran-ajaran yang tertuang dalam Alquran. Lebih lanjut, ayat-ayat Al-Quran dijadikan inspirasi bagi pengembangan keilmuan anak didik kita. Dengan demikian maka pendidikan kita akan terhindar dari sikap sekularisme pendidikan yang memisahkan ilmu dengan Pencipta alam.
Penutup
Tulisan ini tidaklah bermaksud menjelaskan bagaimana implementasi pendidikan berparadigma profetik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat, tetapi terbatas pada bagaimana menjelaskan beberapa prinsip pendidikan yang menjadikan nilai-nilai kewahyuan sebagai landasan berpijak. Diharapkan dengan menjadikan nilai-nilai kewahyuan sebagai paradigma dalam pendidikan dapat secara perlahan-lahan mengarahkan pendidikan kita untuk membentuk generasi yang utuh yaitu generasi yang cerdas secara spiritual maupun intelektual. Wallahu ’alam bi shawab (moh as syakir hasbullah, bangkit.syahid@gmail.com)

*) Penulis Arif Sulistiyawan, Praktisi Pendidikan di Bojonegoro Jatim

Tidak ada komentar: