Senin, 01 Maret 2010

Senandung Talbiyah

M Muchlas Abror

JAMAAH calon haji dari Indonesia secara bertahap diberangkatkan ke Tanah Suci dari 11 embarkasi untuk menunaikan ibadah haji yang menjadi Rukun Islam yang ke lima. Saudara-saudara kita seiman, yang pada tahun ini berkesempatan menunaikan ibadah haji, pantas bergembira dan berbahagia serta harus bersyukur. Kita ucapkan selamat kepada mereka. Semoga mendapatkan haji mabrur.
Mereka yang dapat berhaji pada tahun ini tentulah bergembira dan berbahagia Karena setelah sabar menunggu selama beberapa tahun, akhirnya yang ditunggu telah datang, yang diharap telah tiba, dan yang didambakan telah menjadi kenyataan. Apalagi, selama beberapa tahun ini berlaku ketentuan siapa yang mendaftarkan untuk berhaji pada tahun ini tidak pasti bisa berangkat pada tahun ini. Tetapi harus bersabar menunggu beberapa tahun lagi hingga datangnya giliran. Jadi, bisa berangkat berhaji pada tahun ini tentulah merupakan kegembiraan dan kebahagiaan tersendiri. Selain itu harus bersyukur, karena pada saat negeri kita sedang dilanda beberapa musibah, misal, gempa bumi yang melanda beberapa kota yang banyak merenggut korban, meruntuhkan gedung-gedung, tempat-tempat ibadah, menghancurkan rumah-rumah penduduk, dan lain-lain, tetapi saudara-saudara kita itu tetap dapat berangkat ke Tanah Suci. Mereka hendaklah dapat membuktikan rasa syukur dengan peduli membantu para penderita korban gempa tersebut, baik sebelum berangkat ke maupun sesudah kembali dari Tanah Suci.
Saya setuju pembatasan jumlah umat Islam di dunia termasuk di dalamnya dari Indonesia setiap tahun yang hendak menunaikan ibadah haji. Prioritaskan kepada mereka yang untuk pertama kali hendak berhaji. Sedangkan kepada mereka yang hendak menunaikan ibadah haji yang ke-2, ke-3, dan seterusnya tetap diberi kesempatan, tetapi harus sabar menunggu setelah lima tahun kemudian. Pembatasan itu justru untuk memberi kenyamanan dan keamanan bagi mereka yang sedang menunaikan ibadah haji. Sebab, betapa pun luasnya Masjidil Haram tempat untuk thawaf dan sa’i, padang Arafah untuk wukuf, dan Mina untuk melontar jumrah (walaupun sudah dibangun bertingkat), namun daya tampungnya tetap terbatas.
Ibadah haji berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya dalam Rukun Islam. Ibadah shalat lima waktu, misalnya, merupakan kewajiban yang bersifat harian. Sedangkan ibadah puasa Ramadlan selama satu bulan adalah kewajiban yang bersifat tahunan. Kedua macam ibadah itu tidak dikaitkan dengan kaya dan miskin, punya dan tidak punya. Tidak demikian halnya dengan ibadah haji.
Ibadah yang satu ini merupakan kewajiban satu kali dalam seumur hidup. Selebihnya, menunaikan ibadah haji yang ke-2, ke-3, dan seterusnya bukan lagi merupakan kewajiban, tetapi keutamaan. Meskipun haji merupakan kewajiban satu kali dalam seumur hidup, namun kewajiban ini masih dikaitkan dengan kesanggupan/kemampuan (Q.s. Ali Imran [3] : 97).
Setiap orang beragama Islam atau mukmin menjadikan menunaikan ibadah haji salah satu cita-cita hidupnya. Kapan suatu waktu dapat berhaji menjadi dambaannya. Untuk dapat mencapainya, maka ia harus bekerja keras, tidak boleh malas. Dengan demikian, selain ia dapat menyukupi keperluan diri dan keluarganya, juga dapat menabung dari waktu ke waktu, sedikit demi sedikit, tetapi lama-kelamaan menjadi bukit. Ketika tabungan dibuka, ternyata telah cukup untuk mendaftar dan membayar Ongkos Naik Haji (ONH) selain biaya yang ditinggalkan bagi keperluan keluarga selama menunaikan ibadah haji. Akhirnya menjadi kenyataan, ia dapat memenuhi panggilan Allah untuk dapat memenuhi rasa rindu kepada-Nya. Tentu ini merupakan nikmat dan rahmat bisa berangkat menjadi tamu-Nya.
Mukminin dari Indonesia berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan Rukun Islam yang ke-lima. Mereka meninggalkan Tanah Air menggunakan pesawat udara melintasi lautan, udara, dan beberapa negara. Begitu jauhnya jarak antara Indonesia dan Arab Saudi, meskipun sudah menggunakan pesawat udara, namun dari embarkasi keberangkatan sampai Jeddah masih memerlukan waktu 11 jam. Barulah setelah sampai Jeddah, mereka yang masuk jamaah haji gelombang pertama terus menuju ke Madinah. Di kota ini diberi waktu selama sembilan hari. Setelah itu kemudian ke Mekkah untuk berhaji. Sedangkan mereka yang masuk gelombang ke dua, dari Jeddah terus langsung ke Makkah. Setelah selesai menunaikan ibadah haji, barulah berikutnya ke Madinah. Kita dapat membayangkan betapa perjalanan berhaji itu cukup melelahkan. Tetapi menggembirakan, membahagiakan, dan memberi pengalaman rohaniyah yang berarti.
Setelah mereka berbusana ihram mulai dari tempat yang telah ditentukan, selama dalam perjalanan, mereka bersenandung. “Labbaiik. Allaahumma labbaiik. Labbaiik laa syariikalaka labbaiik. Innal hamda wanni’mata laka wal mulk. Laa syariikalak” – “Aku datang untuk memenuhi panggilan-Mu. Ya Allah, sungguh, aku datang semata-mata untuk memenuhi panggilan-Mu. Aku datang karena perintah-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, dan aku datang untuk mematuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kekuasaan itu hanyalah bagi dan milik-Mu semata. Tiada sekutu bagi-Mu”. Senandung nyanyian mereka itu beralun, berirama. Kadang terdengar meninggi, merendah, dan kadang datar. Silih berganti, terus berlanjut, seolah tiada henti. Itulah senandung talbiyah. Itulah kidung atau tembang mereka yang sedang berhaji. Yang menunjukkan kecintaan dan rasa rindunya kepada Allah.
Siapa pun yang berhaji hendaklah memahami, mendalami, dan menghayati senandung talbiyah. Sebab, inti senandung itu berisi siapa pun yang datang ke Tanah Suci untuk memenuhi panggilan Allah semata. Talbiyah menjadi kunci keberhasilan dalam penunaian ibadah haji untuk mencapai haji mabrur. Semoga. (Sumber Suara Muhammadiyah No 22/November 2009) Diposkan oleh Moh As Syakir (bangkit.syahid@gmail.com

Tidak ada komentar: