Senin, 01 Maret 2010

Senandung Talbiyah

M Muchlas Abror

JAMAAH calon haji dari Indonesia secara bertahap diberangkatkan ke Tanah Suci dari 11 embarkasi untuk menunaikan ibadah haji yang menjadi Rukun Islam yang ke lima. Saudara-saudara kita seiman, yang pada tahun ini berkesempatan menunaikan ibadah haji, pantas bergembira dan berbahagia serta harus bersyukur. Kita ucapkan selamat kepada mereka. Semoga mendapatkan haji mabrur.
Mereka yang dapat berhaji pada tahun ini tentulah bergembira dan berbahagia Karena setelah sabar menunggu selama beberapa tahun, akhirnya yang ditunggu telah datang, yang diharap telah tiba, dan yang didambakan telah menjadi kenyataan. Apalagi, selama beberapa tahun ini berlaku ketentuan siapa yang mendaftarkan untuk berhaji pada tahun ini tidak pasti bisa berangkat pada tahun ini. Tetapi harus bersabar menunggu beberapa tahun lagi hingga datangnya giliran. Jadi, bisa berangkat berhaji pada tahun ini tentulah merupakan kegembiraan dan kebahagiaan tersendiri. Selain itu harus bersyukur, karena pada saat negeri kita sedang dilanda beberapa musibah, misal, gempa bumi yang melanda beberapa kota yang banyak merenggut korban, meruntuhkan gedung-gedung, tempat-tempat ibadah, menghancurkan rumah-rumah penduduk, dan lain-lain, tetapi saudara-saudara kita itu tetap dapat berangkat ke Tanah Suci. Mereka hendaklah dapat membuktikan rasa syukur dengan peduli membantu para penderita korban gempa tersebut, baik sebelum berangkat ke maupun sesudah kembali dari Tanah Suci.
Saya setuju pembatasan jumlah umat Islam di dunia termasuk di dalamnya dari Indonesia setiap tahun yang hendak menunaikan ibadah haji. Prioritaskan kepada mereka yang untuk pertama kali hendak berhaji. Sedangkan kepada mereka yang hendak menunaikan ibadah haji yang ke-2, ke-3, dan seterusnya tetap diberi kesempatan, tetapi harus sabar menunggu setelah lima tahun kemudian. Pembatasan itu justru untuk memberi kenyamanan dan keamanan bagi mereka yang sedang menunaikan ibadah haji. Sebab, betapa pun luasnya Masjidil Haram tempat untuk thawaf dan sa’i, padang Arafah untuk wukuf, dan Mina untuk melontar jumrah (walaupun sudah dibangun bertingkat), namun daya tampungnya tetap terbatas.
Ibadah haji berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya dalam Rukun Islam. Ibadah shalat lima waktu, misalnya, merupakan kewajiban yang bersifat harian. Sedangkan ibadah puasa Ramadlan selama satu bulan adalah kewajiban yang bersifat tahunan. Kedua macam ibadah itu tidak dikaitkan dengan kaya dan miskin, punya dan tidak punya. Tidak demikian halnya dengan ibadah haji.
Ibadah yang satu ini merupakan kewajiban satu kali dalam seumur hidup. Selebihnya, menunaikan ibadah haji yang ke-2, ke-3, dan seterusnya bukan lagi merupakan kewajiban, tetapi keutamaan. Meskipun haji merupakan kewajiban satu kali dalam seumur hidup, namun kewajiban ini masih dikaitkan dengan kesanggupan/kemampuan (Q.s. Ali Imran [3] : 97).
Setiap orang beragama Islam atau mukmin menjadikan menunaikan ibadah haji salah satu cita-cita hidupnya. Kapan suatu waktu dapat berhaji menjadi dambaannya. Untuk dapat mencapainya, maka ia harus bekerja keras, tidak boleh malas. Dengan demikian, selain ia dapat menyukupi keperluan diri dan keluarganya, juga dapat menabung dari waktu ke waktu, sedikit demi sedikit, tetapi lama-kelamaan menjadi bukit. Ketika tabungan dibuka, ternyata telah cukup untuk mendaftar dan membayar Ongkos Naik Haji (ONH) selain biaya yang ditinggalkan bagi keperluan keluarga selama menunaikan ibadah haji. Akhirnya menjadi kenyataan, ia dapat memenuhi panggilan Allah untuk dapat memenuhi rasa rindu kepada-Nya. Tentu ini merupakan nikmat dan rahmat bisa berangkat menjadi tamu-Nya.
Mukminin dari Indonesia berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan Rukun Islam yang ke-lima. Mereka meninggalkan Tanah Air menggunakan pesawat udara melintasi lautan, udara, dan beberapa negara. Begitu jauhnya jarak antara Indonesia dan Arab Saudi, meskipun sudah menggunakan pesawat udara, namun dari embarkasi keberangkatan sampai Jeddah masih memerlukan waktu 11 jam. Barulah setelah sampai Jeddah, mereka yang masuk jamaah haji gelombang pertama terus menuju ke Madinah. Di kota ini diberi waktu selama sembilan hari. Setelah itu kemudian ke Mekkah untuk berhaji. Sedangkan mereka yang masuk gelombang ke dua, dari Jeddah terus langsung ke Makkah. Setelah selesai menunaikan ibadah haji, barulah berikutnya ke Madinah. Kita dapat membayangkan betapa perjalanan berhaji itu cukup melelahkan. Tetapi menggembirakan, membahagiakan, dan memberi pengalaman rohaniyah yang berarti.
Setelah mereka berbusana ihram mulai dari tempat yang telah ditentukan, selama dalam perjalanan, mereka bersenandung. “Labbaiik. Allaahumma labbaiik. Labbaiik laa syariikalaka labbaiik. Innal hamda wanni’mata laka wal mulk. Laa syariikalak” – “Aku datang untuk memenuhi panggilan-Mu. Ya Allah, sungguh, aku datang semata-mata untuk memenuhi panggilan-Mu. Aku datang karena perintah-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, dan aku datang untuk mematuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kekuasaan itu hanyalah bagi dan milik-Mu semata. Tiada sekutu bagi-Mu”. Senandung nyanyian mereka itu beralun, berirama. Kadang terdengar meninggi, merendah, dan kadang datar. Silih berganti, terus berlanjut, seolah tiada henti. Itulah senandung talbiyah. Itulah kidung atau tembang mereka yang sedang berhaji. Yang menunjukkan kecintaan dan rasa rindunya kepada Allah.
Siapa pun yang berhaji hendaklah memahami, mendalami, dan menghayati senandung talbiyah. Sebab, inti senandung itu berisi siapa pun yang datang ke Tanah Suci untuk memenuhi panggilan Allah semata. Talbiyah menjadi kunci keberhasilan dalam penunaian ibadah haji untuk mencapai haji mabrur. Semoga. (Sumber Suara Muhammadiyah No 22/November 2009) Diposkan oleh Moh As Syakir (bangkit.syahid@gmail.com

Pendidikan Berparadigma Profetik

Pendidikan merupakan salah satu aspek dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan bangsa yang memegang peranan penting terkait dengan kualitas kehidupan dan jati diri manusia sebagai khalifah Tuhan. Pendidikan yang baik akan menciptakan tatanan keluarga, masyarakat dan bangsa yang penuh dengan harmoni dan cinta kasih. Pendidikan yang baik juga akan melahirkan generasi yang berilmu, berakhlaq serta mempunyai kemampuan secara mandiri dalam menata masa depannya. Sebaliknya pendidikan yang buruk akan menyebabkan mayarakat menjadi chaos (kacau) dan penuh dengan kebencian. Pendidikan yang buruk akan menghasilkan generasi yang gagap dan tidak mempunyai kemandirian dalam bersikap dan bertindak. Filosof Immanuel Kant mengatakan “manusia adalah hasil dari pendidikan”.
Fenomena pendidikan di Negara kita sekarang ini di satu sisi sudah mengalami banyak kemajuan namun di sisi lain masih banyak problem yang menghantui pendidikan kita. Kemerosotan moralitas anak didik kita yang ditandai oleh banyaknya kasus kenakalan serta perkelaian remaja, anak sekolah yang terjebak dalam pergaulan bebas, pronografi dan narkoba. Semua itu merupakan masalah serius yang memerlukan pemikiran dan pemecahan bagi insan pendidikan yang melibatkan sinergi antara keluarga, pemerintah dan masyarakat.
Sekarang ini sudah banyak teori/konsep pendidikan yang telah dikembangkan dalam rangka untuk memperbaiki serta meningkatkan kualitas pendidikan kita. Mulai dari pendidikan multikultular, pendidikan kritis, dan lain sebagainya. Konsep-konsep tersebut kebanyakan mengadopsi dari Negara-negara maju/Negara-negara barat yang berperadapan industrial dan sekuler sehingga secara praktis belum tentu cocok untuk diaplikasikan di Negara kita karena perbedaan karakter, kultur dan sosiologi masyarakat.
Salah satu konsep pendidikan yang patut kita diskusikan adalah pendidikan berparadigma profetik, yaitu pendidikan yang dilandasi oleh nilai-nilai profetis atau nilai-nilai kewahyuan. Sebagai seorang muslim, kita telah meyakini bahwa wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada nabi-nabi merupakan paket kebenaran yang sudah final. Kebenaran tersebut tidak hanya berisi tentang bagaimana beribadah secara ritual vertical namun juga mengandung pesan-pesan kemanusiaan dan perdamaian yang luhur, singkatnya wahyu yang diturunkan Allah merupakan panduan nilai yang lengkap dalam kehidupan ini. Pendidikan berparadigma profetik tidak hanya menekankan aspek kognitif/intelektual belaka tetapi juga ingin menjadikan manusia menjadi individu-individu yang memiliki kualitas intelektual dan spiritual yang baik.
Ada beberapa prinsip pendidikan berparadigma profetik, antara lain : pertama, pendidikan profetik berlandaskan tauhid, yaitu menjadikan tauhid/keesaan Allah sebagai nafas/spirit dalam segala aktivitas pendidikan. Sudah jelas bagi kita bahwa seluruh wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW mengandung inti pesan ajaran tauhid yaitu mengesakan Allah sebagai pencipta, pengatur dan pemilik kehidupan ini. Nilai-nilai yang terkandung dalam tauhid akan menimbulkan perasaan pembebasan (liberation) sejati pada diri anak didik kita. Melahirkan perasaan kepedulian social kemanusiaan yang tinggi karena tauhid mengandung makna kesatuan penciptaan (Unity of Creation) dan kesatuan kemanusiaan (Unity of Mankind)
Kedua, pendidikan profetik bersifat holistic/menyeluruh. Kegagalan pendidikan yang terjadi sering dikarenakan pendidikan berlangsung dan bersifat parsial. Pendidikan sering hanya di maknai dengan pengajaran yang berisi transfer pengetahuan belaka sehingga akan menghasilkan individu yang cerdas secara kognitif tetapi berperilaku yang menyimpang dari nilai-nilai dan norma agama. Pendidikan berparadigma profetik memandang bahwa manusia adalah makhluk rasional sekaligus makhluk spiritual seperti yang diajarkan dalam Al-Qur’an sehingga pendidikan yang dilaksanakan mempunyai misi mencerdaskan akal dan hati. Sekarang ini dengan adanya pemisahan mata pelajaran, pendidikan agama sering hanya diajarkan secara parsial dan tidak dikaitkan dengan subyek keilmuan yang lain. Bercermin dari sejarah Nabi Muhammad, sepanjang hidupnya Nabi berdakwah dengan mendidik umatnya secara totalitas agar dapat melaksanakan ajaran Tauhid. Nabi mendidik umatnya tanpa kenal lelah sepanjang hidupnya dengan sekolah tanpa dinding (school without wall) sehingga dalam waktu kurang lebih 23 tahun Nabi berhasil merubah masyarakat yang jahiliyah (Ignorance Soceity) menjadi masyarakat yang beradab (Civilited Soceity) .
Ketiga, pendidikan profetik menjadikan Al-Qur’an sebagai paradigma Ilmu Pengetahuan. Al-Qur’an adalah wahyu Tuhan yang paripurna yang menjadi pelengkap ajaran-ajaran nabi-nabi terdahulu yang merupakan panduan hidup bagi setiap muslim di muka bumi ini. Al-quran memberikan status yang tinggi bagi ilmu pengetahuan, disebutkan bahwa Allah mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu (QS,58:11), Penciptaan alam semesta adalah tanda-tanda bagi orang yang berakal/ulul albab (QS,3:190). Ilmu pengetahuan yang kita pelajari saat ini khususnya ilmu-ilmu alam sebagian besar lahir dari peradaban Barat yang secular sehingga cenderung berpandangan materialistic dan menolak wahyu sebagai sumber informasi dalam dunia keilmuan. Dengan menjadikan Alquran sebagai paradigma maka setiap aktivitas pengajaran ilmu pengetahuan selalu mengkaitkan subject matter keilmuan tersebut dengan ajaran-ajaran yang tertuang dalam Alquran. Lebih lanjut, ayat-ayat Al-Quran dijadikan inspirasi bagi pengembangan keilmuan anak didik kita. Dengan demikian maka pendidikan kita akan terhindar dari sikap sekularisme pendidikan yang memisahkan ilmu dengan Pencipta alam.
Penutup
Tulisan ini tidaklah bermaksud menjelaskan bagaimana implementasi pendidikan berparadigma profetik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat, tetapi terbatas pada bagaimana menjelaskan beberapa prinsip pendidikan yang menjadikan nilai-nilai kewahyuan sebagai landasan berpijak. Diharapkan dengan menjadikan nilai-nilai kewahyuan sebagai paradigma dalam pendidikan dapat secara perlahan-lahan mengarahkan pendidikan kita untuk membentuk generasi yang utuh yaitu generasi yang cerdas secara spiritual maupun intelektual. Wallahu ’alam bi shawab (moh as syakir hasbullah, bangkit.syahid@gmail.com)

*) Penulis Arif Sulistiyawan, Praktisi Pendidikan di Bojonegoro Jatim

Prof Komarudin Hidayat : Mengapa Harus Bersyahadat

Ibarat bangunan rumah, syahadat itu bagaikan fondasinya. Ketika melihat rumah bagus dan besar, orang kurang peduli pada fondasi, justru yang diperhatikan adalah bangunan rumah serta berbagai ornamen yang ada. Atau mungkin mobil-mobil mewah yang parkir di halamannya.

Ibarat fondasi bangunan, syahadat yang merupakan rukun Islam pertama memang tidak kelihatan, namun fungsinya sangat vital, sebagai penyangga seluruh bangunan di atasnya.

Dalam ajaran Islam, sebagian besar ajaran dan pelaksanaan agama memang bersifat sangat pribadi. Secara seremonial, yang bisa dilihat oleh orang lain adalah shalat jum’at dan ibadah haji. Itupun ketika menyangkut niat dan tingkat kekhusyukannya, orang lain tidak tahu. Jadi betul-betul bersifat pribadi, yang tahu hanya yang bersangkutan dan Allah. Kita tidak tahu secara pasti, adakah seseorang benar-benar melakukan shalat, puasa, zakat dan haji. Dengan demikian, kemerdekaan atau kebebasan beragama sudah built-in dalam ajaran Islam.

Tanpa adanya kebebasan maka konsep reward and punishment (pahala dan siksa) sulit diterapkan. Seseorang dikatakan berbuat baik ketika ada pilihan dan peluang untuk berbuat jahat, dan sebaliknya. Dengan demikian, apakah seseorang mau beriman dan beramal saleh, itu sebanding dengan kesempatan untuk memilih menjadi kufur dan berbuat munkar.

Memaknai Syahadat

Secara harfiah, syahadat dalam Islam berbunyi: Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Kalimat yang tampak sederhana ini jika dikaji konteks kemunculannya sungguh merupakan peristiwa sosial-psikologis yang amat dahsyat. Masyarakat Arab waktu menjadi goncang dan terbelah gara-gara deklarasi syahadat ini. Bahkan Muhammad yang kala itu dikenal sebagai orang yang paling dipercaya dan dicintai semua masyarakat, begitu mandakwahkan kalimat ini tiba-tiba jiwanya terancam, dikejar-kejar hendak dibunuh yang akhirnya harus pindah ke Madinah.

Bersyahadat berarti melakukan perjanjian dan kontrak hidup dengan Allah, menyadari sepenuhnya bahwa kita diciptakan oleh Allah, dimatikan oleh Allah, dan hidup ini hanya untuk Allah, mengikuti ajaran-ajaran Allah. Deklarasi ini sekaligus memutuskan semua bentuk penghambaan selain pada Allah. Dengan demikian syahadat juga berarti sebuah liberasi dan emansipasi atau pembebasan diri dari semua bentuk ketergantungan kecuali pada Allah.

Implikasi syahadat ini ketika awal mula diajarkan oleh Rasul Muhammad telah membuat para bangsawan Arab marah, tersinggung dan merasa dihinakan. Sebaliknya para budak dan orang-orang tertindas merasa memperoleh pencerahan hidup dan optimisme, bahwa semua manusia adalah sama. Yang membedakan adalah kualitas iman dan budinya, bukan karena pangkat dan kekayaannya. Faham egalitarianisme dan humanisme sejati justeru telah diajarkan oleh Rasul Muhammad sejak abad ke tujuh, bahwa hidup adalah suci, dan setiap jiwa orang harus dihormati. Dalam setiap individu terdapat nilai kemanusiaan universal, sehingga Al-Qur’an menyatakan, barangsiapa membunuh seseorang tanpa alasan yang dibenarkan maka nilai dosanya seakan telah membunuh seluruh manusia. Begitupun yang menolong jiwa seseorang, seakan dia telah menolong seluruh manusia.

Muncul pertanyaan, kapan syahadat yang menyatakan keislaman kita? Mengapa seorang muslim wajib mengikrarkan syahadat setidaknya sembilan kali sehari, dan memohon petunjuk jalan yang lurus sedikitnya tujuh belas kali sehari? Apakah ini berarti kita masih ragu akan keislaman kita? Sedikitnya tiga jawaban dapat dikemukakan terhadap pertanyaan ini.

Pertama, demikianlah perintah dan ajaran Islam, bahwa setiap shalat kita diwajibkan mengucapkan syahadat. Tentu perintah ini mengandung hikmah yang besar, mengapa syahadat harus diulang-ulang, tidak cukup sekali saja sebagaimana perintah wajib haji ataupun akad nikah dalam perkawinan.

Kedua, mengingat hati, pikiran, dan tindakan seseorang tidak selalu stabil, tidak selalu berada di jalan yang lurus, maka setiap hari perlu dilakukan pembaruan dan penyegaran komitmen tauhid berupa ikrar syahadat. Rasulullah memperingatkan, hati-hati dengan dirimu, siapa tahu pagi hari penuh dengan semangat keimanan sedang sorenya terpeleset menjadi kafir (sekalipun dalam KTP tetap tertulis sebagai orang muslim). Oleh karena itu shalat dan syahadat yang dilakukan setiap hari merupakan ikatan dan jalan pertobatan bagi seorang mukmin.

Ketiga, sebuah syahadat verbal berupa ucapan harus selalu diisi terus-menerus dengan syahadat atau kesaksian yang didukung dengan ilmu pengetahuan dan pengalaman keberagamaan. Coba bandingkan, kualitas syahadat yang diikrarkan para peserta training ESQ setelah memperoleh pengetahuan tentang kebesaran Allah dengan kualitas syahadat sebelum training. Pasti ada perbedaan kualitas. Atau kualitas syahadat kita semasa SD dan setelah usia lanjut, tentu bobotnya tidak sama. Ini berarti setiap hari kita wajib meningkatkan kualitas syahadat kita dengan cara menambah pengetahuan tentang Allah dan asma-Nya serta karya-karya agung-Nya.

Begitupun permohonan dalam Al-Fatihah: Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus. Sebagaimana syahadat, ini juga merupakan metode dan komitmen agar kita selalu berjalan di atas jalan yang lurus. Bahkan sekaligus menunjukkan sikap rendah hati di hadapan Allah. Dalam berbagai pertemuan lintas agama, qua substansi semua tokoh agama sulit menolak kebenaran Al-Fatihah karena isinya sangat inklusif. Jika Al-Fatihah disebut induk Al-Qur’an, maka inklusifitas isi Al-Fatihah sejalan dengan spirit training ESQ yang juga inklusif dan rendah hati serta haus akan kebenaran.

Perintah bersyahadat dan mohon petunjuk ke jalan lurus setiap hari bukannya kita ragu akan kebenaran agama serta iman kita, melainkan sebuah metode pembelajaran diri agar kita selalu rendah hati dan membuka diri terhadap kritik, dan kritik yang paling penting datang dari diri sendiri. Kalau seseorang membiasakan melakukan kritik diri dengan tulus dan serius, maka ketika ada kritik dari orang lain, ia tidak akan marah, malah berterima kasih.

Sumber ESQ Magazine.com, Senin 14 September 2009
Kebiasaan Berpikir negatif Vs Kebiasaan Berpikir Positif
Thursday, November 26, 2009, 6:52 | 0 Komentar .
Berpikir Negatif VS Berpikir Positif
“Manusia mungkin berbuat salah tetapi yang tidak dibenarkan adalah mempertahankan sesuatu yang negatif dan mengulanginya hingga menjadi kebiasaan”
Apakah Anda mengenal orang yang selalu berpikir negatif? Apakah Anda mengenal orang yang selalu melihat sisi negative segala sesuatu? Apakah Anda mengenal orang yang menjadikan rokok, minuman keras, atau narkoba sebagai pelarian dari masalah yang dihadapi? Berpikir negatif adalah penyakit yang sangat berbahaya. Ia candu seperti narkoba dan minuman keras. Waspadalah dengan pikiran negatif yang bila berkelanjutan akan menghasilkan perilaku negatif. Diantara ciri-ciri orang yang berkepribadian negatif :
1. Keyakinan dan bayangan negatif ; Kepribadian yang negatif lebih sering meyakini kegagalan daripada keberhasilan. Bayangan kegagalan selalu ada dalam pikirannya.
2. Menolak perubahan ; Karena keyakinan dan bayangan negatif, seseorang menolak perubahan apa pun yang mengeluarkannya dari zona nyaman dan aman.
3. Tidak berperan aktif menyelesaikan masalah
4. Selalu mengeluh, mencela, dan melihat sisi negatif dari segala sesuatu
5. Selalu merasa frustasi, sendiri dan gagal
6. Hasil kerja dan capaian individunya menjadi lemah
7. Senang menyendiri dan tidak mampu bersosialisasi hingga tidak punya sahabat
8. Sangat mungkin terserang penyakit jiwa
Ini beberapa contoh kepribadian negatif. Menghindarlah dari berpikir negatif karena pikiran itu akan menumpuk dan menyebar hingga menjadi kebiasaan yang menghalangi anda mencapai tujuan dan mendatangkan masalah yang tidak berkesudahan. Yang paling penting untuk disadari adalah pikira negatif menguatkan ego rendah dan menjauhkan kita dari Allah.
Sobat, justru pikiran yang harus kita kembangkan adalah selalu berpikir positif. Ada masalah atau tidak, kita selalu bersyukur pada Allah, kita berpikir mencari solusi dari segala kemungkinan hingga pikiran itu menjadi kebiasaan hidup kita. Orang yang memiliki kepribadian semacam ini akan menjalani hidup dengan damai,tenang dan bahagia.
Mari kita menelusuri sifat-sifat kepribadian positif dan bagaimana kita bisa menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada sepuluh sifat utama yang menjadi ciri khas kepribadian positif. Sifat-sifat itu akan membantu kita mewujudkan cita-cita, serta memberi kebahagiaan, ketenangan, dan ketentraman jiwa.
1. Beriman, memohon bantuan, dan tawakkal kepada Allah.
2. Kepribadian yang sukses memiliki ciri jujur, amanah, menyukai kebaikan, murah hati, bergantung pada Allah, dan selalu meneladani akhlak Rasulullah Saw. Dan orang-orang sholeh.
3. Memiliki cara pandang yang jelas.
4. Pribadi positif tahu betul kekuatan hukum keyakinan dan proyeksi positif.
5. Selalu mencari jalan keluar dari berbagai masalah.
6. Belajar dari masalah dan kesulitan
7. Tidak membiarkan masalah dan kesulitan mempengaruhi kehidupannya.
8. Percaya diri, menyukai perubahan, dan berani menghadapi tantangan.
9. Hidup dengan cita-cita, perjuangan, dan kesabaran.
10. Pandai bergaul dan suka membantu orang lain.
Sobat, sebagai penutup tulisan singkat ini. Ada kata-kata menarik yang perlu kita renungkan dari Dr. Ibrahim Elfkiy : ” Hidup yang kita jalani saat ini adalah pancaran pikiran, keputusan, dan pilihan kita. Jika kita rela menerima tantangan, berarti kita telah merintis perubahan, kemajuan dan perkembangan.”
Semoga kita bisa menjadi hamba-hamba-Nya yang senantiasa bersyukur dan bertawakkal kepada Allah SWT. Rasulullah Saw. Bersabda, ”Jika kalian bertawakkal kepada Allah dengan benar, niscaya Dia akan memberi rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki pada burung.”
Ada syair yang layak kita perhatikan:
Bertakwalah kepada Allah jika engkau berpikir
Dia akan memberimu rezeki yang tak pernah engkau pikir
Bagaimana mungkin engkau takut jatuh miskin
Sedangkan Allah Maha Mengatur Rezeki
Dialah yang memberi rezeki
Pada burung dan ikan di lautan.
( Spiritual Motivator – N.Faqih Syarif H , Penulis buku Al Quwwah ar ruhiyah, Kekuatan Spirit Tanpa Batas, www.fikrulmustanir.blogspot.com , www.cahayaislam.com )

Selasa, 23 Februari 2010

Program dahsyat Aset Mandiri Com

Inilah program yang sangat DAHSYAT dan SPEKTAKULER!! hanya dengan bermodal kecil anda bisa mendapatkan 3 MILYAR Rupiah.. sudah banyak yg membuktikan itu smua.. sudah ada 18 ribu lebih member yg sudah bergabung dengan kami..Penasaran? silahkan baca sistem nya di sini http://www.asetmandiri.com/?id=syakir

Senin, 22 Februari 2010

Konsolidasi Rezim

Konsolidasi Rezim
Oleh : Cornelis Lay
Beberapa hari lalu, saya bersua seorang sahabat, anggota DPR baru. Ia kebingungan karena disambangi birokrat menengah—lengkap dengan disposisi dari atasannya— yang menanyakan dua hal penting: sumber data yang menjadi dasar bagi komentarnya terkait utang Indonesia yang semakin membengkak setahun terakhir; dan apa yang dimauinya dengan komentar negatif seperti itu.
Dengan lugu ia menjawab, sumber data berasal dari berbagai dokumen resmi, dan bahkan secara naïf menunjukkan dokumennya. Sementara untuk pertanyaan kedua, dengan sederhana dijawabnya agar pemerintah bekerja lebih serius lagi. Sahabat saya bertanya lugu, apa yang salah dengannya sehingga birokrat itu mendatanginya? Ia tampaknya percaya yang sedang dihadapinya peristiwa individual.
Jauh sebelumnya, tetapi di bawah rezim yang sama, sahabat lain berkisah tentang undangan sebagai komentator di sebuah TV swasta. Ia diminta tidak memberikan komentar terkait presiden. Ketika dia menolak, acara dibatalkan. Sahabat karib lain yang lantang, bahkan sejak Orde Baru, menceritakan pengalamannya dipanggil dan diperingatkan atasannya atas komentar dan tulisan-tulisannya.
Dengan bijak atasan karib saya meminta agar ia menahan diri. Alasannya sederhana, ia ditelepon dan dikirimi faksimile media yang memuat komentar karib saya oleh seorang petinggi di pusat pengambilan keputusan. Bahkan, secara tersamar sang petinggi mengindikasikan ancaman pengurangan budget dari negara.
Sahabat yang lain mengirimkan SMS sederhana yang menjelaskan pilihannya untuk melawan salah satu pasangan kandidat presiden-wakil presiden selama pemilihan presiden. Ia menyatakan, rangkaian respons dari kubu sang kandidat menyusul kritik menggelitik Butet Kartaredjasa dalam sebuah acara semakin meyakinkan dia untuk aktif menyatakan ”tidak” pada pasangan kandidat tersebut.
Kisah-kisah sejenis silih berganti dikeluhkan teman-teman media dalam berbagai obrolan ringan. Namun, sialnya, saya tidak menyediakan cukup waktu dan perhatian untuk memverifikasi. Sekalipun demikian, Jusuf Kalla (JK) dalam salah satu debat antarkandidat presiden memberikan hints yang meyakinkan, kisah di atas bukan fiksi. JK berbilang lantang tak akan pernah menelepon redaksi media massa.
Dan kini, mencuatnya kisah sejenis menyusul pengakuan sejumlah anggota Tim Pansus Bank Century semakin memperjelas bekerjanya metode di atas. Apalagi, rencana pengendalian informasi lewat rancangan peraturan pemerintah yang sedang disiapkan salah satu kementerian ikut diperhitungkan.
Beberapa bulan yang lalu sahabat lain berkisah tentang pilihan ”madu” dan ”racun”—koalisi dan bui—yang ditangkapnya secara jelas selama proses keras ke arah pembentukan koalisi kabinet. Pilihan dilematis sejenis bukan hal istimewa. Saya begitu sering mendengar keluhan sejumlah bupati/wali kota yang kebetulan saya kenal tentang hal yang sama. Sementara dua minggu yang lalu, sahabat saya yang berada di lingkaran kekuasaan bercerita bahwa ia dan timnya menerima foto yang tidak layak dari salah seorang yang bersuara lantang kepada penguasa yang dikirim orang tidak dikenal. Namun, dengan bangga ia menyatakan, dia tidak pernah menggunakannya untuk tujuan politik.
Sama seperti reaksi sahabat dalam kisah pertama, impresi umum yang saya dapatkan dari para sahabat atas berbagai kisah di atas hampir seragam: mereka mengira ini soal individu, soal pribadi seorang pemimpin, serta soal kepengecutan atasan mereka dan media. Tidak satu pun membayangkan kesemuanya sebagai watak sistemik dari sebuah rezim yang sedang mengonsolidasi diri.
Memperbesar kekuasaan
Dua minggu yang lalu, saya bertemu dengan sahabat yang lain dalam sebuah acara sosial. Ia kebetulan berada di lingkaran kekuasaan. Dalam pembicaraan serba ringan banyak hal digosipkan. Akan tetapi, salah satu yang mengagumkan adalah kesimpulan besar yang diberikannya: rangkaian amandemen konstitusi kita memiliki corak politis yang serupa, yakni memangkas kekuasaan lembaga kepresidenan yang membikin sistem presidensial tidak memiliki topangan konstitusi yang memadai.
Kesimpulan ini bisa dipastikan merupakan refleksi dari keyakinan Presiden dan para pembantunya. Kesimpulan ini berangkat dari fakta sederhana: beberapa bulan yang lalu Tim Penasihat Presiden mengundang ahli, termasuk dari berbagai perguruan tinggi untuk mengkaji rencana amendemen konstitusi berikutnya. Tujuannya cukup sederhana: mengukuhkan kembali kekuasaan konstitusional presiden secara lebih solid yang diandaikan sebagai sumber malapetaka rendahnya kapasitas governability presiden. Karena saya memutuskan tidak menghadiri acara ini sekalipun diminta oleh dekan, saya tak sempat menyampaikan pandangan bahwa kewajiban pokok presiden adalah melaksanakan konstitusi, bukan mengubahnya.
Defisit kekuasaan sebagai argumen pembenar ketidakefektifan kepemimpinan bukan monopoli presiden dan orang di sekitarnya. Dalam berbagai forum pertemuan gubernur, dan dalam sejumlah pertemuan saya dengan individual gubernur, saya selalu mendengar kisah yang sangat tipikal: gubernur dihadapkan pada defisit kekuasaan yang sangat besar sehingga gagal bahkan sekadar menghadirkan bupati dalam rapat-rapat koordinasi.
Salah satu motif di balik rencana perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 terkait dengan kehendak untuk mengonsolidasi kembali kekuasaan gubernur sebagai perpanjangan tangan presiden. Sesuatu yang pernah ditanyakan salah seorang mantan menteri dalam pertemuan dengan saya beberapa bulan lalu.
Demos yang tercabik
Namun, di ranah demos, kisah-kisah sebaliknya justru bermunculan. Kisah partai yang telah beranak pinak, dan bahkan bercucu dan bercicit sudah sangat gamblang disajikan media massa di samping kisah rutin pertengkaran internal. Namun, yang tak kalah serunya adalah kisah perpisahan dan perpecahan dunia gerakan dan masyarakat sipil. Saya sering dikirimi SMS oleh banyak sahabat aktivis. Salah satu yang mencengangkan menceritakan kecurigaan pengirim SMS atas ”siapa Bendera” —yang aktivisnya kini sedang dihadapkan pada persoalan hukum—berikut motif dan kekuatan di baliknya.
Pembilahan politik dan kekuatan masyarakat sipil ke dalam sekat-sekat kategoris tertentu memang adalah nature-nya Indonesia. Boeke berkisah tentang dual economy lebih dari seratus tahun lalu. Furnivall berkisah tentang fragmented society, bahkan sebelum kita merdeka. Geerzt mendeskripsikan pembilahan Santri-Abangan-Priayi yang sudah jadi legenda. Feith membentang peta aliran yang lebih rumit dengan mengombinasikan ideologi (kanan-kiri) dan pengaruh Barat dan budaya lokal (Jawa) yang diproyeksikan melalui partai-partai.
Sifat alamiah masyarakat di atas mengalami distorsi cepat. Orba memanipulasi dan memperdalam fragmentasi melalui konsep sederhana, tetapi mematikan: SARA berikut EKI (Ekstrem Kiri), EKA (Ekstrem Kanan), dan bahkan Ekstrem Tengah. Modus Orba telah memudar. Akan tetapi, substansinya terus bertahan: negara memfasilitasi pembilahan dan fragmentasi masyarakat secara konstan.
Lihat saja fenomena konsolidasi kelompok dan pemaksaan tersistem untuk menjadi ”lawan” atau ”kawan” yang akhir- akhir ini semakin intensif. Energi bangsa sedang dibelah dan dikuras secara sistematis. Sialnya, bukan untuk menghasilkan Indonesia yang lebih baik, tetapi sebatas mempertegas siapa kawan, siapa lawan.
Otoritarianisme lunak?
Apa arti berbagai kisah di atas? Penafsiran bisa bervariasi. Namun, jika sejarah diri sendiri bisa dipercaya, kesimpulannya cukup sederhana: rezim sedang mengonsolidasi diri melalui metode stick and carrot. Hanya saja pilihan pendekatan berbeda dengan masa lalu. Keduanya bekerja di bawah permukaan dan menghindarkan diri dari tindakan mengoyak formalisme demokrasi. Bahkan lebih lagi, kedua metode yang ada bekerja dalam balutan nilai yang sangat diimpikan setiap anak negeri: demokrasi dan pemerintahan yang bersih.
Tujuannya pun setali-tiga-uang, menciptakan kepatuhan pada kekuasaan guna melicinkan jalan bagi kontrol dan pengawetan rezim. Sudah tentu, pencapaiannya masih jauh dari tujuan yang ingin dicapai. Benih-benih perlawanan masih berserakan di sana sini.
Namun, sifat kerjanya yang masif dan konsisten, daya rambahnya yang sedemikian luas, area kerjanya yang semakin bervariasi, dan daya persuasinya lewat kendali atas wacana publik yang sedemikian luar biasa boleh jadi akan mengantarkan kita memasuki gerbang baru Indonesia: otoritarianisme lunak. Atau jangan- jangan kesimpulan ini terlampau mengada-ada karena masing-masing kisah di atas sekadar bercerita tentang dirinya masing-masing.
Cornelis Lay adalah Pengajar Jurusan Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM, Yogyakarta(Kompas Selasa, 23 Februari 2010 | 02:57 WIB)

Selasa, 16 Februari 2010